Permintaannya hampir selalu datang dari kolektor kelas atas. Mereka yang tak cuma punya uang, tapi juga berminat pada narasi di balik hewannya: sejarah panjang, kesetiaan, dan kekuatan.
Namun begitu, punya anjing seharga sebuah pesawat jet pribadi itu bukan perkara mudah. Komitmennya besar sekali. Mereka butuh ruang luas untuk bergerak, makanan khusus, dan perawatan bulu yang intensif. Kesehatan mereka juga perlu perhatian ekstra. Jadi, ini soal kesiapan tanggung jawab, bukan cuma kemampuan mengeluarkan cek.
Fenomena ini sebenarnya mencerminkan satu hal menarik. Nilai seekor hewan bisa melampaui sekadar makhluk hidup. Ia masuk ke ranah ekonomi, budaya, dan simbol sosial. Angka Rp210 miliar itu lebih dari harga seekor anjing; ia adalah harga dari sejarah, mitos, dan gengsi yang melekat padanya.
Di balik transaksi fantastis itu, tersimpan kisah tentang hubungan kompleks manusia dengan hewan. Terkadang, hubungan itu dibingkai oleh status, pencapaian, dan cerita yang kita ingin percayai.
Keysa Qanita
Artikel Terkait
Iran Luncurkan Rudal, 12 Orang Terluka di Israel
Bocah 6 Tahun Tewas Tenggelam di Pantai Gratis Singkawang
Angin Puting Beliung di Sabu Raijua Robohkan Gudang, Kerugian Capai Rp520 Juta
Seskab Teddy Silaturahmi ke Sejumlah Tokoh Nasional, Prabowo Telepon Pemimpin Dunia