Rp210 miliar. Bayangkan angka itu untuk seekor anjing. Itulah harga yang dibayar seorang kolektor di Tiongkok untuk seekor Tibet Mastiff, mencatatkan rekor baru yang bikin geleng-geleng kepala. Transaksi senilai 15 juta dolar AS ini bukan sekadar jual beli hewan, tapi lebih mirip akuisisi aset mewah.
Di pasar hewan peliharaan global, angka ini jelas sesuatu yang luar biasa. Melampaui jauh harga anjing ras lain pada umumnya.
Lantas, apa sih yang bikin harganya selangit begitu? Semuanya berawal dari sejarah panjangnya. Tibet Mastiff adalah ras purba yang berasal dari dataran tinggi Tibet. Mereka bukan anjing rumahan biasa. Secara turun-temurun, anjing besar berbulu tebal ini bertugas menjaga kawanan ternak dan rumah dari serangan predator di pegunungan yang ekstrem. Naluri penjaganya sangat kuat.
Penampilannya juga epik. Posturnya besar dan kokoh, dengan bulu lebat di sekitar leher yang mirip surai singa. Gagah. Anggun. Memiliki aura yang sulit dijelaskan. Karena itulah, di banyak kalangan terutama di Tiongkok anjing ini sudah lama jadi simbol status. Memilikinya bukan cuma soal hobi, tapi pernyataan prestise.
Menurut sejumlah saksi di pasar hewan mewah, tren ini memang sedang naik daun. Minat terhadap hewan peliharaan eksotis dan langka kian meningkat di kalangan orang berduit. Tibet Mastiff, dengan segala kelangkaan dan citra eksklusifnya, jadi primadona.
Permintaannya hampir selalu datang dari kolektor kelas atas. Mereka yang tak cuma punya uang, tapi juga berminat pada narasi di balik hewannya: sejarah panjang, kesetiaan, dan kekuatan.
Namun begitu, punya anjing seharga sebuah pesawat jet pribadi itu bukan perkara mudah. Komitmennya besar sekali. Mereka butuh ruang luas untuk bergerak, makanan khusus, dan perawatan bulu yang intensif. Kesehatan mereka juga perlu perhatian ekstra. Jadi, ini soal kesiapan tanggung jawab, bukan cuma kemampuan mengeluarkan cek.
Fenomena ini sebenarnya mencerminkan satu hal menarik. Nilai seekor hewan bisa melampaui sekadar makhluk hidup. Ia masuk ke ranah ekonomi, budaya, dan simbol sosial. Angka Rp210 miliar itu lebih dari harga seekor anjing; ia adalah harga dari sejarah, mitos, dan gengsi yang melekat padanya.
Di balik transaksi fantastis itu, tersimpan kisah tentang hubungan kompleks manusia dengan hewan. Terkadang, hubungan itu dibingkai oleh status, pencapaian, dan cerita yang kita ingin percayai.
Keysa Qanita
Artikel Terkait
Gubernur Sulut Pimpin Aksi Bersih-Bersih Massal di Tujuh Titik Pesisir Manado
Tanah Longsor Tutup Sebagian Jalan Penghubung Malang-Kediri
Karhutla Masih Melanda Lima Kabupaten di Riau, Operasi Pemadaman Terus Berjalan
Kemensos Beri Pendampingan Intensif bagi 7 Pekerja Migran Korban TPPO