MURIANETWORK.COM - Indonesia melalui pengelola investasi negara, Danantara, secara resmi memulai enam proyek hilirisasi senilai total USD7 miliar atau sekitar Rp110 triliun. Proyek-proyek yang tersebar di 13 wilayah ini ditandai dengan seremoni groundbreaking serentak dari Jakarta pada Jumat (6/2/2026), sebagai bagian dari upaya strategis meningkatkan industrialisasi, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Fase Awal Program Strategis
Keenam proyek tersebut merupakan bagian pertama dari 18 proyek prioritas dalam program pengembangan hilirisasi Danantara. CEO Danantara, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa langkah ini menandai dimulainya komitmen jangka panjang untuk mengubah struktur perekonomian.
“Proyek-proyek ini bukan sekadar tentang investasi, tetapi juga penciptaan lapangan kerja, pengembangan wilayah, dan pertumbuhan ekonomi nasional,” tegas Rosan dalam keterangannya, Sabtu (7/2/2026).
Ia menambahkan bahwa seluruh proyek telah melalui studi kelayakan yang mendalam dan diharapkan dapat mempercepat strategi industri hilir Indonesia, sekaligus mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Rincian dan Dampak Proyek
Fase pertama ini didominasi oleh dua proyek pengolahan bauksit di Mempawah, Kalimantan Barat, dan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, dengan investasi gabungan mencapai USD3 miliar. Keberadaan pabrik ini diharapkan dapat menangkap nilai tambah dari komoditas mineral sebelum diekspor.
Selain itu, serangkaian proyek di sektor energi terbarukan dan ketahanan pangan juga diluncurkan. Di Glenmore, Jawa Timur, akan dibangun pabrik bioetanol dengan kapasitas produksi 30.000 kiloliter per tahun. Sementara itu, sebuah biorefinery di Cilacap, Jawa Tengah, diproyeksikan menghasilkan hingga 6.000 barel per hari bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Untuk mendukung ketahanan pangan, program ini mencakup pembangunan fasilitas peternakan ayam terintegrasi di beberapa provinsi. Di sisi lain, pengembangan pabrik pengolahan garam di Jawa Timur direncanakan dapat menambah kapasitas produksi PT Garam hingga 380.000 ton per tahun.
Dampak Jangka Panjang bagi Ekonomi
Investasi besar-besaran ini bukan hanya angka di atas kertas, melainkan sebuah langkah konkret yang diperkirakan akan memperkuat fondasi industri dalam negeri. Dampaknya diharapkan bisa dirasakan secara luas, mulai dari peningkatan keamanan energi, stabilisasi pasokan pangan, hingga penguatan basis manufaktur lokal.
Dengan penyebaran proyek di berbagai pulau, manfaat ekonomi diharapkan dapat dinikmati secara merata, mendorong pemerataan pembangunan dan membuka akses lapangan kerja baru di daerah. Langkah strategis ini menunjukkan komitmen untuk tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga membangun ketahanan dan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan.
Artikel Terkait
Ledakan di Masjid Syiah Islamabad Tewaskan Ratusan, ISIS Diduga Dalang
Mensos: Digitalisasi Bansos Turunkan Kesalahan Data dari 77% ke 28%
KiiWii Bee Luncurkan Nuance dan Koleksi Baru dalam Acara Komunitas
Survei Kaspersky: 81% Keluarga Global Percaya Digitalisasi Ubah Fundamental Kebersamaan