"Cuma memang ada beberapa tempat yang masih belum, delapan desa yang di Aceh Tengah, kemudian titik di aceh ada 15 desa yang belum masuk aliran listrik karena memang putus-putus semua tiangnya, tapi diberikan genset oleh PLN," jelasnya.
Masalah lain muncul dari kondisi alamiah tanah di lokasi bencana. Beberapa ruas jalan yang sudah diperbaiki ternyata kembali rusak karena struktur tanah yang labil. Hal ini menciptakan pekerjaan berulang dan memerlukan pendekatan teknis yang lebih matang.
"Sudah dibangun jalan kemudian tergerus lagi karena struktur tanahnya itu baik berpasir kalau di Aceh, kalau di Sumut dan Sumbar tanahnya lempung, ini rentan sekali kalo ada hujan," ujarnya.
Wilayah yang Masih Menjadi Fokus
Berdasarkan kondisi di lapangan, pemerintah saat ini masih memusatkan perhatian pada sejumlah kabupaten yang dinilai paling membutuhkan intervensi berkelanjutan. Prioritas ini ditetapkan berdasarkan tingkat kerusakan dan kerentanan wilayah tersebut.
Di Provinsi Aceh, terdapat enam titik perhatian, yaitu Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Pidie Jaya, dan Aceh Tengah. Sementara di Sumatera Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara menjadi fokus akibat terjangan material lumpur dalam skala besar. Adapun di Sumatera Barat, upaya pemulihan terkonsentrasi di Kabupaten Agam, Pariaman, Tanah Datar, dan Pesisir Selatan.
Laporan ini menunjukkan bahwa meski tahap tanggap darurat mulai bergeser ke pemulihan, proses rehabilitasi di daerah dengan kerusakan ekstrem dan kondisi geologis yang menantang masih memerlukan waktu dan strategi yang tepat.
Artikel Terkait
Arus Balik Lebaran di Pelabuhan Pangkal Balam Mulai Bergerak, Roro Tertunda
Kondisi Mata Andrie Yunus Memburuk, RSCM Temukan Iskemia dan Lakukan Operasi Lanjutan
Mobil Listrik Tercebur ke Kolam Bundaran HI, Pengemudi Selamat
Pria Tua Terseret Kereta Barang di Surabaya, Selamat Meski Terlempar 30 Meter