MURIANETWORK.COM - Kasus kematian misterius satu keluarga di Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, akhirnya terungkap setelah penyelidikan hampir sebulan. Polisi menetapkan anak ketiga dalam keluarga, Abdullah Syauqi Jamaludin (23), sebagai tersangka pelaku racun yang menewaskan ibunya dan kedua kakaknya. Penetapan ini merupakan hasil dari penyelidikan forensik yang panjang dan mendalam.
Peristiwa yang menggemparkan warga itu terjadi pada awal Januari lalu. Ketiga korban ditemukan tewas di dalam rumah mereka pada Jumat (2/1) pagi. Korban yang meninggal adalah sang ibu, Siti Solihah (50), serta kedua anaknya, Afiah Al Adilah Jamaludin (28) dan Abdullah Syauqi Jamaludin (23). Saat ditemukan, Syauqi masih bernyawa dalam kondisi lemas di kamar mandi dan sempat dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.
Penetapan Tersangka Setelah Penyelidikan Mendalam
Proses hukum bergulir setelah kondisi Syauqi pulih dan memungkinkan untuk diperiksa. Polisi tidak hanya mengandalkan keterangan saksi, tetapi juga membangun kasus ini dengan pendekatan ilmiah melalui penyidikan ilmiah (scientific crime investigation). Rangkaian pemeriksaan forensik yang cermat, mulai dari visum luar, autopsi, hingga uji toksikologi di laboratorium, menjadi kunci terungkapnya motif kejahatan ini.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menjelaskan proses panjang yang dilalui. "Kemudian serangkai pemeriksaan ini berjalan hingga akhirnya pada tanggal 4 Februari atas hasil pemeriksaan dari Puslabfor, dokter dan juga bukti toksikologi serta hasil pemeriksaan saksi-saksi," ujarnya pada Jumat (6/2/2026).
Berdasarkan konvergensi seluruh alat bukti itu, polisi yakin untuk mengambil langkah tegas. "Hasil pengamatan kami berdasarkan barang bukti lainnya, sehingga kami menetapkan Saudara S sebagai pelaku atau tersangka dari perkara peristiwa keracunan tersebut dimana Saudara S memang dengan sengaja meracun ketiga korban tersebut," tegas Budi Hermanto.
Mengungkap Motif di Balik Tindakan Keji
Penetapan Syauqi sebagai tersangka sekaligus menjawab teka-teki yang sempat membayangi kasus ini. Awalnya, ia hadir sebagai saksi kunci sekaligus korban yang selamat. Namun, fakta di lapangan dan bukti forensik berbicara lain, mengarahkan penyelidikan pada satu kesimpulan yang suram: bahwa pelaku justru berasal dari dalam rumah sendiri.
Kasus ini menyisakan duka mendalam bagi lingkungan sekitar dan menjadi contoh betapa kompleksnya penyelidikan kasus keracunan. Ketelitian dalam mengamankan TKP dan koordinasi antar unit kepolisian dengan tenaga medis forensik terbukti vital untuk mengungkap kebenaran, meskipun kebenaran itu terasa pahit.
Artikel Terkait
43 Titik Jalan Berlubang di Flyover Ciputat Picu Kecelakaan, Warga Desak Perbaikan Segera
IIMS 2026 Bertransformasi Jadi Destinasi Wisata Edukatif Ramah Lingkungan
Menteri ATR/BPN: Pencabutan Izin Perusahaan Perusak Lingkungan Belum Cukup, Perlu Tindak Pidana
BCA Digital Luncurkan Fitur BluSpending untuk Bantu Anak Muda Atur Keuangan