Di tengah hiruk-pikuk politik global, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto angkat bicara. Ia merespons rencana Presiden AS Donald Trump yang memasukkan Indonesia ke dalam 'Board of Peace' atau Dewan Perdamaian untuk Gaza. Bagi Hasto, langkah ini terasa janggal. Bahkan, ia menilai keputusan itu tak sejalan dengan gagasan besar Sang Proklamator, Sukarno.
"Sekiranya Bung Karno masih ada, maka tidak seperti ini," ucap Hasto tegas. Suaranya terdengar di sekitaran Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Jumat lalu.
Ia lalu menerangkan.
"Yang dilakukan oleh Bung Karno adalah yang pertama kita gelorakan spirit Asia-Afrika. Kemudian menggalang kembali Gerakan Non-Blok," sambungnya.
Menurut Hasto, pendekatan Indonesia pasti akan berbeda andai Sukarno yang memimpin. Bukan dengan bergabung dalam dewan yang digagas kekuatan besar, melainkan dengan menggalang solidaritas dari sesama bangsa di Asia dan Afrika. Itu jalan yang lebih cocok dengan karakter bangsa.
"Maka Palestina, Israel itu atas campur tangan kita, kepemimpinan kita harus didorong untuk duduk bersama atas kepemimpinan Indonesia dengan menggalang bangsa-bangsa Asia-Afrika dan Amerika Latin," jelasnya lagi. "Itu kalau saya menggunakan teori dari pemikiran geopolitik Sukarno."
Artikel Terkait
Revisi UU Pemda 2026 Dinanti Jadi Momentum Perbaiki Hubungan Pusat-Daerah
De Zerbi Buka Peluang ke Tottenham, Syaratnya Spurs Harus Bertahan
Polres Metro Bekasi Gelar Pengecekan di 28 Objek Wisata Jelang Libur Lebaran
Pemerintah Siapkan WFH Satu Hari Seminggu untuk ASN Usai Lebaran