MURIANETWORK.COM - Serangan udara Israel di Jalur Gaza kembali menelan korban jiwa, dengan total 23 orang dilaporkan tewas. Peristiwa ini terjadi di tengah situasi genting, meski gencatan senjata fase kedua tengah berlaku. Otoritas kesehatan setempat menyebutkan, dari jumlah korban tersebut, tiga di antaranya adalah anak-anak, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka. Kedua pihak, Israel dan Hamas, saling menyalahkan terkait pelanggaran kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati.
Korban Berjatuhan di Tengah Upaya Gencatan Senjata
Laporan dari lapangan mengonfirmasi bahwa pertempuran kembali memanas hanya beberapa hari setelah Israel membuka kembali penyeberangan Rafah secara parsial. Titik perbatasan dengan Mesir itu merupakan akses vital bagi warga Gaza, yang menjadi satu-satunya jalur keluar tanpa harus melalui wilayah Israel. Serangan udara terbaru ini, karenanya, terjadi dalam momen yang sangat krusial bagi warga sipil yang berusaha mencari perlindungan atau bantuan.
Klaim dan Bantahan dari Dua Pihak
Kementerian Kesehatan di Gaza, yang dikelola oleh otoritas setempat, memberikan rincian korban. Mereka menyatakan 21 orang meninggal dunia dan 38 lainnya terluka akibat serangan yang mereka sebut brutal.
Di sisi lain, badan pertahanan sipil Gaza melaporkan insiden terpisah di Jalur Gaza tengah. Menurut mereka, serangan terhadap sebuah tenda pengungsian menewaskan dua orang dan melukai delapan warga sipil.
Merespons laporan tersebut, militer Israel memberikan pernyataan yang berbeda. Mereka mengklaim serangan di Gaza tengah secara spesifik menargetkan seorang komandan peleton Hamas bernama Bilal Abu Assi.
Secara lebih luas, juru bicara militer Israel juga menegaskan posisi mereka. "Kami sedang mengambil langkah-langkah untuk meminimalkan kerugian terhadap warga sipil sebisa mungkin," jelasnya, menekankan upaya yang mereka klaim telah dilakukan dalam operasi militer tersebut.
Situasi yang Terus Memanas
Insiden terbaru ini semakin memperkeruh suasana dan memperlihatkan betapa rapuhnya kesepakatan gencatan senjata. Tuding-menuding antara kedua belah pihak terus berlanjut, sementara korban dari kalangan warga sipil, termasuk anak-anak, terus berjatuhan. Kondisi di lapangan menggambarkan kompleksitas konflik yang berkepanjangan, di mana klaim operasi militer bertarget sering kali beririsan dengan realita korban di kalangan penduduk non-kombatan.
Artikel Terkait
Rumah di Sikka Hangus Terbakar, Diduga Disulut Anak Pemilik yang Alami Gangguan Jiwa
Anggota TNI Divonis Seumur Hidup atas Pembunuhan Berencana Terhadap Istrinya
Menlu: Diskusi Arah Politik Luar Negeri dengan Mantan Pejabat Berjalan Konstruktif
Menlu: Diskusi Dewan Perdamaian dengan Mantan Pejabat Berjalan Konstruktif