Namun begitu, rasa nyaman itu perlahan pudar. Ia mulai sadar, kariernya mandek di tempat. Usia terus bertambah, sementara upah bulanan yang dulu ia terima dengan riang, jelas tak lagi cukup untuk menghidupi diri ke depannya. Ada kegelisahan yang mengendap.
Dari situlah tekadnya muncul. Udeh memutuskan untuk naik kelas, beralih dari stuntman menjadi stunt coordinator. Bertahun-tahun ia mengasah ilmu, sambil tetap bekerja. Tabungan dari keringatnya itu akhirnya membawanya ke Australia pada 2016, untuk mengikuti kelas Stunt Academy. Sekembalinya, ia pun mantap memulai babak baru.
Pengalaman pahit manis sebagai stuntman membentuk cara pandangnya. Udeh kemudian berupaya membangun ekosistem yang lebih baik bagi para pejuang laga di belakang layar. Ia mendirikan PT Pejuang Laga Indonesia, atau yang akrab disebut Pejuang Stunt. Lembaga ini bertujuan menaungi para stunt dengan sistem yang lebih aman dan terorganisir, mulai dari urusan pembayaran, penyaluran kerja, hingga pengembangan kemampuan.
Prinsipnya dalam bekerja kini sangat jelas. Ia mengutip perkataan sesama stunt coordinator, Bruce Law.
Baginya, keselamatan bukan lagi sekadar prosedur, tapi tanggung jawab moral. Setelah sekian lama menghadapi risiko sendiri, kini ia berdiri di garis depan untuk memastikan orang lain tidak merasakan penderitaan yang sama.
Artikel Terkait
DLH DKI Bantah Isu Pemadaman Alat Pantau Udara di Rorotan
Mobil Hangus Terbakar Usai Tabrakan di Tol Jagorawi, Diduga Diawali Adu Kecepatan
Jenderal Israel Terbang Diam-diam, Desak AS Serang Iran dalam Dua Bulan
Jalan Berlumpur, Suara Lantang: Bocah SMP di Perbatasan Tuntut Presiden Perbaiki Infrastruktur