Perasaan bangga itu juga dirasakan PM, napi lain yang terlibat. Ia senang sekali mengetahui produk buatannya diminati orang banyak.
“Melalui kegiatan ini, saya belajar keterampilan baru dan cara menghasilkan produk yang disukai masyarakat. Semoga dengan adanya kegiatan ini, saya dapat lebih baik,” harapnya.
Seluruh proses ini tak lepas dari pengawasan ketat Petugas Pembina Kemandirian, Aprilita Dwi Imasari. Baginya, yang penting bukan cuma hasil akhir, tapi juga nilai disiplin dan tanggung jawab yang tertanam.
“Setiap tahap produksi dilakukan dengan teliti, mulai dari pemilihan bahan baku, perendaman, hingga proses pengasinan. Kami ingin agar produk yang dihasilkan tidak hanya layak jual, tetapi juga memiliki kualitas yang bisa dibanggakan,” ujar Aprilita.
Di sisi lain, kegiatan ini ternyata memberi manfaat finansial. Ada premi dan PNBP yang masuk, menjadi sumber dukung untuk kegiatan pembinaan dan operasional lapas.
Doni punya visi yang lebih jauh. “Kami ingin setiap hasil karya warga binaan tidak berhenti di dalam tembok Lapas saja. Melalui pembinaan yang terarah, kami dorong agar produk-produk seperti La-New City Craft dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem UMKM yang mandiri dan berdaya saing,” tuturnya.
Program ini, menurutnya, sejalan dengan arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto. Khususnya dalam hal mendayagunakan warga binaan untuk menciptakan produk UMKM yang berkelanjutan dan mampu bersaing di pasar.
Artikel Terkait
RDF Rorotan Kembali Dihentikan, Bau Menyengat dan Kasus ISPA Kembali Mencemaskan Warga
Eropa Terjebak dalam Permainan Pecah Belah yang Abadi
Maling Nyasar dari Balkon Hotel, Terperosok ke Ventilasi Rumah
Peringatan MSCI dan Tantangan Reformasi Pasar Modal di Era Prabowo