Persiapan Ocean Impact Summit (OIS) 2026 di Bali terus digenjot oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Nah, momentum pengenalan acara besar ini dilakukan di sela dua pertemuan internasional yang juga digelar di Pulau Dewata: Bali Ocean Days dan pertemuan ke-30 Coastal States Alliance (CSA).
Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan, Doni Ismanto Darwin, menegaskan bahwa sosialisasi substansi acara tak kalah penting dari persiapan teknisnya.
“Di balik persiapan acara, kami juga terus menggaungkan substansi pelaksanaan OIS 2026. Semakin banyak pihak yang mengetahui, apalagi berpartisipasi, tentu akan banyak yang bisa kita hasilkan dari pelaksanaan OIS 2026,” jelas Doni dalam keterangan tertulisnya, Jumat lalu.
Menurutnya, memanfaatkan dua forum internasional itu adalah langkah yang tepat. Soalnya, isu yang dibahas mulai dari konservasi terumbu karang, sampah laut, sampai pengelolaan perikanan sangat selaras dengan agenda inti OIS nanti.
Bali Ocean Days sendiri dihadiri oleh sederet perwakilan negara dan pimpinan organisasi nirlaba global. Pembahasannya cukup luas, menyentuh masalah pembangunan pesisir hingga ancaman plastik di lautan.
Di sisi lain, pertemuan CSA ke-30 lebih fokus pada upaya menjaga populasi tuna. Pertemuan ini jadi ajang penting sebelum sidang Technical Committee on Allocation Criteria (TCAC) di Perth, Australia, awal Februari nanti. Hadir di sana perwakilan negara-negara pantai dan organisasi yang tergabung dalam Komisi Tuna Samudra Hindia (IOTC).
Dukungan pun mulai mengalir. Salah satunya dari John Burton, peserta pertemuan CSA yang juga pendiri The Sustainable Fisheries and Communities Trust (SFACT).
“Pelaksanaan OIS adalah sinyal kepemimpinan Indonesia di sektor kelautan dan perikanan. Saya baru tau tentang OIS setelah melihat video presentasi di WEF lalu. Saya menyatakan saya akan datang,” ungkap Burton dengan tegas.
Rencananya, OIS 2026 akan berlangsung pada 8-9 Juni mendatang dengan mengusung tema "Unlocking The Potential of the Blue Economy". Indonesia sebagai tuan rumah tak sendirian; mereka mendapat sokongan dari World Economic Forum serta Ocean X, sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada riset dan teknologi kelautan.
Intinya, melalui summit perdana ini, pemerintah berupaya mendorong terobosan dalam pemanfaatan sumber daya laut. Tujuannya jelas: mendongkrak ekonomi dan ketahanan pangan, tapi dengan tetap menjaga kelestarian ekosistem laut itu sendiri. Sebuah jalan berkelanjutan yang memang tak mudah, tapi penting untuk segera ditempuh.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi