Fadli Zon Usulkan Indonesia Spotlight di IFFR dan Percepatan Repatriasi Koleksi Raden Saleh

- Jumat, 30 Januari 2026 | 13:25 WIB
Fadli Zon Usulkan Indonesia Spotlight di IFFR dan Percepatan Repatriasi Koleksi Raden Saleh

Di sela-sela gemerlap International Film Festival Rotterdam (IFFR), Menteri Kebudayaan Fadli Zon menemui rekannya dari Belanda, Gouke Moes. Pertemuan bilateral ini bukan sekadar formalitas. Intinya, kedua menteri ingin mengeratkan lagi kemitraan strategis mereka, terutama di ranah budaya, film, hingga pengelolaan arsip dan warisan.

IFFR sendiri tahun ini cukup meriah dengan kehadiran karya sineas Indonesia. Ada dua film pendek dan lima film panjang yang diputar. Tak cuma itu, produser Indonesia juga terlibat dalam berbagai program seperti pitching dan lab mentor. Menurut Fadli Zon, ruang yang diberikan IFFR ini patut diapresiasi.

“Kami juga mengusulkan kemungkinan adanya ‘Indonesia Focus’ atau ‘Indonesia Spotlight’ di festival mendatang,” ujarnya.

Ia berharap, ini bisa jadi platform yang lebih dalam untuk pertukaran budaya lewat layar lebar.

Di sisi lain, kerja sama perfilman memang sedang digenjot. Kedua pihak sepakat untuk melanjutkan komitmen mereka terkait Perjanjian Kerja Sama Ko-produksi Audiovisual yang ditandatangani akhir 2024 lalu. Proses ratifikasinya sendiri masih berjalan.

“Saat ini, proses ratifikasi tengah berjalan melalui koordinasi lintas kementerian terkait,” jelas Kementerian Kebudayaan dalam rilis tertulisnya, Jumat (30/1/2026).

Soal pengembangan talenta, ada program SAMASAMA Lab yang jadi perhatian. Inisiatif ini digarap bareng oleh Netherlands Film Fund, Manajemen Talenta Nasional Kemenbud RI, dan Asosiasi Produser Film Indonesia. Tujuannya jelas: membangun ekosistem kreatif lintas negara yang bisa bertahan lama, lewat pengembangan proyek dan pertukaran pengetahuan.

Namun begitu, pembicaraan tak cuma soal film. Fadli Zon menekankan pentingnya kerja sama di bidang arsip sejarah dan budaya. Ia ingin arsip-arsip Belanda yang terkait dengan Indonesia bisa dimanfaatkan bersama.

“Pemerintah Belanda menyambut baik inisiatif ini dengan semangat kolaborasi,” jawab Kemenbud.

Kolaborasi itu rencananya akan mencakup digitalisasi arsip, akses bersama, penelitian, hingga restorasi film. Lembaga seperti Eye Film Museum dan KITLV diharapkan bisa terlibat. Pendekatannya harus etis, inklusif, dan saling menghormati.

Terkait isu repatriasi atau pengembalian benda budaya, Fadli Zon menyampaikan apresiasi. Ia menilai pendekatan "cultural and historical justice" dari pemerintah Belanda sudah pada jalur yang benar. Koleksi Dubois, misalnya, sudah bisa dilihat publik di Museum Nasional Indonesia.

Tapi, masih ada pekerjaan rumah. Indonesia mendorong percepatan repatriasi untuk 37 objek Warisan Budaya Bersifat Kebendaan lainnya. Rekomendasi dari Colonial Collection Committee sudah ada. Tinggal eksekusinya.

Fadli Zon juga menyebut satu nama penting: Raden Saleh. Ia mengusulkan agar koleksi karya maestro legendaris Indonesia yang masih disimpan di Museum Naturalis, Belanda, bisa dikembalikan. Ini bukan sekadar urusan benda, melainkan pemulihan sejarah seni dan identitas budaya.

Di akhir pertemuan, ada satu permintaan lagi dari Indonesia. Fadli Zon meminta dukungan Belanda untuk pencalonan Indonesia sebagai Anggota Komite Antar-Pemerintah UNESCO untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda. Pemilihannya akan digelar Juni 2026.

Pertemuan ini, pada akhirnya, menegaskan satu hal. Hubungan budaya Indonesia dan Belanda ingin dibangun dengan prinsip kesetaraan dan kolaborasi. Kebudayaan diharapkan tetap menjadi jembatan dialog yang membawa keadilan sejarah, serta kerja sama internasional yang berkelanjutan ke depannya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar