Upaya damai antara seorang guru SD di Tangerang Selatan dan orang tua murid yang melaporkannya ternyata mentok. Mediasi yang difasilitasi polisi, Rabu kemarin, berakhir tanpa titik terang. Orang tua murid bersikukuh untuk melanjutkan proses hukum yang sudah mereka jalankan.
Kapolres Metro Tangerang Selatan, AKBP Boy Jumalolo, sendiri yang memimpin pertemuan itu. Sayangnya, niat baik untuk berdamai tak kunjung menemui jalan.
"Untuk saat ini pelapor memutuskan untuk tetap melanjutkan laporan polisi yang sudah dilaporkan di Polres Tangerang Selatan,"
kata Boy, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, mediasi ini sebenarnya digelar demi memikirkan masa depan si anak. Polisi berharap kedua belah pihak bisa berjabat tangan dan menyudahi persoalan. Guru yang bersangkutan pun sudah mengulurkan permintaan maaf. Dia menjelaskan, nasihat yang diberikannya semata-mata untuk kebaikan sang murid.
Tapi rupanya itu belum cukup. Meski begitu, pintu perdamaian belum sepenuhnya tertutup rapat.
"Pelapor menyampaikan masih membuka ruang mediasi atau restorative justice masih terbuka di kemudian hari,"
tambah Boy.
Soal Apa Sebenarnya?
Lantas, bagaimana ceritanya sampai berujung ke ranah hukum? Intinya sih, orang tua murid merasa tersinggung dengan perkataan guru saat proses belajar mengajar berlangsung. Siswa itu pulang dan mengadukan kejadian tersebut kepada orang tuanya.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, membeberkan kronologinya. Usai tahu kejadian, orang tua mencoba menemui guru untuk berbicara. Namun, percakapan mereka tak membuahkan kesepakatan. Malah, makin runyam.
"Orang tua meminta guru itu meminta maaf di depan kelas dan disaksikan orang banyak,"
kata Budi, Rabu (28/1).
Permintaan itu, sayangnya, tak kunjung dipenuhi. Dari Agustus hingga Desember 2025, orang tua menunggu. Mereka ingin permintaan maaf itu dilakukan secara terbuka, sebagai bentuk klarifikasi. Karena tak kunjung terjadi, laporan polisi pun diajukan. Jadilah seperti sekarang, mediasi buntu dan kasusnya berlanjut.
Artikel Terkait
Korban Kecelakaan KA Argo Bromo–KRL di Bekasi: Gita, Mahasiswi Ber-IPK 3,89 yang Bercita-cita Kuliah ke Eropa dan Umrahkan Orangtua
Bamsoet: Koperasi Merah Putih Harus Bertransformasi dari Simpan Pinjam ke Model Bisnis Produk Unggulan Bermerek Kolektif
Menhub dan Dirut KAI Takziah ke Rumah Duka Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Rekrutmen Sopir Green SM Dipertanyakan Usai Rangkaian Kecelakaan, dari Tabrakan Maut Bekasi hingga Terobos Palang Pintu