Sebelum longsor melanda Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, upaya modifikasi cuaca ternyata sudah dijalankan. BMKG mengungkapkan hal itu dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Senayan, Selasa lalu. Sayangnya, meski upaya itu dilakukan secara masif, hasilnya tak sepenuhnya optimal. Curah hujan yang terlampau tinggi hanya bisa diredam sekitar 30% saja.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani yang hadir dalam rapat itu menjelaskan kronologinya. Menurutnya, pihaknya telah mengerahkan sejumlah pesawat untuk operasi modifikasi cuaca di wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta.
"Pada saat hari Kamis sebelum bencana di Sabtu dini hari di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, itu kita menarik tiga pesawat dari Sumatera," kata Faisal.
"Tiga pesawat dari Sumatera kita tarik, pesawatnya bekerja tiga di DKI plus satu dari Pemprov, kemudian satu di Bandung, kemudian dari Pemprov Jawa Barat juga mendukung OMC selama dua hari," sambung dia.
Jadi, upaya pemerintah sudah cukup besar. Mereka tak tinggal diam. Namun begitu, intensitas hujan di daerah itu memang luar biasa. Faisal menegaskan, meski operasi dilakukan secara masif, pengurangan curah hujan hanya mencapai angka 30 persen.
Di sisi lain, ada faktor lain yang memperparah keadaan. Faisal menyoroti perubahan fungsi lahan dan kondisi lingkungan setempat. Daya tampung wilayah yang kian menyusut itu, ditambah cuaca ekstrem, akhirnya memperbesar kerentanan terhadap bencana. Longsor di Cisarua, dalam konteks ini, adalah buah dari rangkaian faktor yang rumit.
Artikel Terkait
Presiden Rumania Tunjuk Adrian Vestea sebagai Perdana Menteri Baru Gantikan Eugen Tomac yang Mundur
BPS Mulai Sensus Ekonomi 2026 pada Juni, Petugas Datangi Usaha dari Rumah ke Rumah
Kebakaran Landa Bangunan Semi Permanen di Depok, 12 Personel Damkar Dikerahkan
Angin Kencang Terjang Lingga dan Dairi, 92 Rumah Rusak