Dia memberi contoh dengan Microsoft. "Tebak berapa kali saya ketemu Microsoft? Empat kali," jelas Nadiem. Tak cuma itu, pertemuan dengan perwakilan Apple untuk urusan digitalisasi pendidikan juga dilakukan, sekitar dua kali di tahun yang sama.
Dari sini, dia merasa ada narasi yang dipelintir. Menurut Nadiem, Kejaksaan seolah membangun opini bahwa pertemuannya dengan Google itu sesuatu yang khusus dan mencurigakan. Padahal faktanya, rapat dengan Microsoft justru lebih banyak.
"Jadinya ini narasi yang menyesatkan. Seolah-olah saya bertemu itu hal yang jahat, padahal saya lebih banyak ketemu Microsoft daripada Google," katanya, menegaskan poinnya.
Sebelumnya, kesaksian datang dari Ganis Samoedra Murharyono, Strategic Partner Manager Google for Education. Dalam kesaksiannya, Ganis mengungkap bahwa dalam pertemuan tersebut, Nadiem memang sepakat untuk menggunakan Chromebook dalam proyek digitalisasi tersebut.
Artikel Terkait
Jepang Pertimbangkan Izin Kapal Asing untuk Angkut Cadangan Minyak
Skema One Way Trans Jawa Efektif Lancarkan Arus Mudik Lebaran 2026
Dermaga Pelabuhan Merak Padat Pemudik, Petugas Siaga Antisipasi Macet Total
Dua Pasangan Ganda Putra Indonesia Lolos ke 16 Besar Orleans Masters