Selamat Jalan, Papah: Puisi Penuh Keberanian Rafi untuk Ayahnya di Tengah Duka

- Minggu, 25 Januari 2026 | 15:45 WIB
Selamat Jalan, Papah: Puisi Penuh Keberanian Rafi untuk Ayahnya di Tengah Duka

Suasana hening menyelimuti Auditorium Madidihang di Jakarta Selatan, Minggu lalu. Di tengah upacara penghormatan bagi tiga korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, seorang anak lelaki maju ke depan. Dialah Rafi Pratama Irawan, yang dengan berani membacakan sebuah puisi untuk ayahnya, Ferry Irawan.

Rafi, ditemani pamannya Muhammad Ahmad, tampak mengenakan gamis dan peci. Suaranya mungkin masih terdengar lirih, tapi setiap kata yang diucapkannya terasa sangat dalam. Puisi itu ia beri judul "Selamat Jalan Papahku Tercinta".

Isinya sederhana, namun menyentuh siapa saja yang mendengarnya. Rafi mengungkapkan keikhlasan hatinya, meski air mata rasanya ingin jatuh. Ia percaya kepergian ayahnya adalah takdir terbaik dari Allah.

Selamat Jalan Papahku Tercinta

Hari ini aku berdiri di sini dengan hati yang belajar ikhlas meski air mata ingin jatuh

Papah

Aku percaya ini adalah takdir yang terbaik dari Allah. Papa dipanggil saat sedang mengabdi menjalankan tugas negara melakukan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan

InsyaAllah papah wafat dalam keadaan sahid husnul khotimah. Ya Allah ampunilah dosa papahkuh, terimalah amal dan ibadahnya, lapangkan kuburnya dan tempat ia disisimu bersama orang-orang yang soleh

Di bagian lain puisinya, Rafi yang masih kecil itu berjanji akan menjadi anak yang sholeh. Janji yang paling mengharukan adalah tekadnya untuk menjaga sang ibunda dan menyayangi adiknya, Radin.

Papah aku masih kecil, tapi papah telah mengajarkan ku tauladan yang besar tentang keikhlasan tentang keberanian dan tentang menyerahkan segala hanya kepada Allah SWT

Aku berjanji pah aku akan menjaga salatku menjadi anak yang baik, anak yang sholeh dan aku akan menjaga mamah dan sayang dengan adik Radin

Penutup puisinya jujur dan polos. Rafi menjelaskan bahwa tangisnya bukanlah bentuk kemarahan pada takdir. Tidak sama sekali.

Papah jika hari ini aku menangis itu bukan karena marah kepada takdir.
Tapi karena aku sangat mencintai Papah.

Selamat jalan, Papah.
Doaku menyertai kepergianmu.
Semoga Papah tenang di sana, dan kita dapat berkumpul kembali di surga Allah yang paling indah.

Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Ferry Irawan, sang ayah, diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ia menjadi salah satu korban dalam musibah penerbangan tragis di Maros itu. Upacara penghormatan itu bukan sekadar prosesi resmi. Melalui puisi Rafi, kita menyaksikan sebuah fragmen kepedihan yang sangat manusiawi, sekaligus kekuatan sebuah janji dari seorang anak kepada ayahnya yang telah pergi.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar