Pramono Akui Banjir Jakarta Barat Dipicu Kiriman Air dari Tangerang

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 21:40 WIB
Pramono Akui Banjir Jakarta Barat Dipicu Kiriman Air dari Tangerang

Jakarta Barat jadi wilayah yang paling babak belur diterjang banjir. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, tak menampik fakta itu. Menurutnya, pemicu utamanya justru datang dari luar ibukota: kiriman air deras dari kawasan hulu di Tangerang dan Tangerang Selatan.

Saat meninjau pengungsian di Rawa Buaya, Cengkareng, Sabtu (24/1/2026), Pramono menjelaskan lebih detail.

"Kenapa Jakarta Barat paling parah? Yang pertama karena memang kiriman dari hulunya. Kali ini kiriman datang dari Tangerang, Tangerang Selatan, dan sekitarnya,"

Ia menyebut sejumlah sungai besar seperti Angke, Pesanggrahan, dan Mookervart jadi pembawa air kiriman itu. Semua aliran itu akhirnya bermuara ke satu titik: Cengkareng Drain. Saluran itulah yang sempat kebanjiran dengan ketinggian air yang mengkhawatirkan.

"Di Cengkareng Drain kemarin sore ketinggian air sempat di angka 350, pagi tadi turun menjadi 315. Batas aman itu 310, jadi sekarang sedang kita kejar agar segera turun,"

Di Masjid Jami' Baitul Rahman, Rawa Buaya, suasana pengungsian tampak tertata. Ada 45 kepala keluarga atau sekitar 177 jiwa yang mengungsi di sana. Pramono memastikan kondisi mereka sehat dan kebutuhan pokok seperti makanan dan tempat tidur sudah dijamin. Bantuan dari Pemprov DKI berdatangan, mulai dari beras, minyak, mi instan, hingga kasur lipat dan selimut. PMI DKI juga turun tangan membagikan minyak penghangat untuk mengusir dingin.

Teriakan dari Lantai Dua Masjid

Namun begitu, di tengah kunjungannya, ada satu hal yang langsung menarik perhatian Gubernur. Saat itu, Pramono didampingi Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah dan sedang bersalaman dengan warga.

Tiba-tiba, dari lantai dua masjid, suara seorang warga menyeruak.

"Pak Pram, Pak Pram, Pak pompanya tambah lagi dong Pak,"
"Pompanya Pak tambah lagi. Biar (banjir) cepat surut,"

Pramono langsung menengadah ke arah suara itu. Tanpa pikir panjang, ia pun mengangguk dan berjanji.

"Ya, nanti ditambah,"

Permintaan itu jelas dan mendesak. Warga butuh aksi konkret, bukan sekadar peninjauan. Dan respons cepat Pramono di lokasi setidaknya memberi sedikit harapan bagi mereka yang rumahnya masih terendam.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar