"Yang jadi soal, berkurangnya kontribusi AS bisa memengaruhi kapasitas WHO secara global. AS kan selama ini termasuk penyumbang terbesar," jelas politikus PKS ini.
Karena itu, menurutnya, Indonesia perlu mengambil sikap. "Kita harus tetap mendukung WHO, tapi sekaligus memperkuat kerja sama kesehatan secara bilateral dan regional. Di sisi lain, penguatan kemandirian sektor kesehatan nasional mulai dari riset sampai produksi obat harus dipercepat," tutur Sukamta.
Keputusan hengkangnya AS ini sendiri sudah lama diwacanakan. Dilaporkan, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) mengonfirmasi penyelesaian proses penarikan diri pada Kamis waktu setempat. Agenda ini menjadi salah satu poin yang dituntaskan dari era kepemimpinan Donald Trump.
Prosedurnya memang tak instan. AS harus memberi pemberitahuan setahun sebelumnya dan melunasi semua kewajiban keuangannya. Nah, pada Kamis itu pula, HHS menyatakan pendanaan pemerintah AS untuk WHO telah dihentikan total. Personel dan kontraktor AS yang bekerja di WHO pun ditarik semua.
Intinya, Amerika Serikat kini benar-benar memutus tali. Mereka tak lagi terlibat dalam komite, struktur kepemimpinan, atau kelompok kerja teknis apa pun yang disponsori WHO.
Artikel Terkait
Bocah Perempuan Ditemukan Menangis di Pinggir Jalan Narogong, Ingin Ditemani ke Rumah Ibu
Atap GOR Serdang Ambruk Diterjang Angin, 11 Motor Terhimpun Rangka Besi
Dari Ibu Kota Politik Menuju Polis: Tantangan Sejati IKN
Jakarta Kehilangan 800 Situ, Pemerintah Pacu Revitalisasi dan Waduk Baru