Heboh di media sosial. Beredar video sejumlah siswa di Depok, Jawa Barat, membawa meja lipat dari rumah untuk belajar di sekolah. Lokasinya di SMP Negeri 3 Depok, yang baru saja diresmikan ulang setelah renovasi besar-besaran. Ternyata, meski bangunannya sudah megah, puluhan ruang kelas justru kosong melompong tanpa perabotan.
Nur, juru bicara sekolah, mengaku pihaknya memang masih kekurangan banyak meja dan kursi. Dari total 33 kelas, hanya 16 yang sudah terisi perabotan. Sisanya? Masih kosong.
"Ya nggak cukup kalau cuma segitu," ujarnya, Jumat (23/1/2026).
"Sekalipun kita buat dua sesi belajar, tetap saja kurang. Masih ada 17 ruangan yang belum dapat apa-apa."
Kebijakan pun diambil. Pengadaan meja dan kursi yang tersedia diprioritaskan untuk siswa kelas 9, yang sebentar lagi menghadapi ujian. Sementara itu, siswa kelas 7 dan sebagian kelas 8 terpaksa harus beradaptasi dengan kondisi serba terbatas.
Mereka belajar dengan meja lipat pribadi, sambil duduk lesehan di lantai. Sejak peresmian gedung pada 8 Januari lalu, praktik ini sudah berjalan.
"Iya, lesehan. Alas duduk mereka bawa sendiri kalau perlu," kata Nur membenarkan.
Di sisi lain, pihak sekolah mengklaim sedang berupaya. Wali Kota Depok, Supian Suri, disebut sudah turun tangan mengusahakan pengadaan perabotan itu. Hanya saja, belum ada kepastian kapan barang-barang tersebut akan tiba.
"Lagipula ini kan sudah viral," tutur Nur. "Jadi kayaknya sedang diurus serius. Mudah-mudahan secepatnya."
Gedung Baru Rp 28 M, Tapi Tanpa Mebel
Ironisnya, renovasi sekolah ini bukan proyek murah. Anggarannya mencapai Rp 28 miliar. Wali Kota Supian Suri meresmikan gedung tiga lantai megah itu pada awal Januari, menyebutnya sebagai jawaban atas harapan banyak pihak.
"Ini wujud perhatian kami. Dengan dana 28 miliar, kita bisa bangun 33 ruang kelas yang berkecukupan," kata Supian dalam pernyataannya.
Namun begitu, dia mengakui ada masalah yang tersisa. "Hanya saja, mebelernya yang masih kurang. Mudah-mudahan bisa kita cukupkan, walau mungkin nggak semuanya sekaligus, setengahnya dulu."
Jadi, di balik kemegahan gedung sekolah senilai miliaran rupiah, puluhan siswa masih harus berjuang belajar di lantai, menunggu janji pengadaan meja dan kursi yang tak jelas kapan realisasinya.
Artikel Terkait
Dua Tersangka Baru di Kasus Korupsi Desa Muba, Termasuk Staf Ahli Bupati dan Advokat
Bayi Diduga Dianiaya Pengasuh di Daycare Banda Aceh, Polisi Amankan Pelaku
Human Initiative Luncurkan Flash Sale Qurban Rp1,7 Juta per Bagian Sapi, Fokus ke Indonesia Timur dan Afrika
Mayapada Hospital Hadirkan Teknologi Kedokteran Nuklir PET-CT dan SPECT-CT untuk Deteksi Dini Kanker