Hanya beberapa hari sebelum Donald Trump genap setahun di masa jabatan keduanya, Cina sudah lebih dulu unjuk gigi. Mereka memamerkan data ekonomi yang, jujur saja, cukup tangguh. Tekanan dagang dari Washington? Rupanya belum cukup untuk menggoyang mesin ekonomi Negeri Tirai Bambu.
Pertumbuhan ekonomi Cina sepanjang 2025 tercatat 5 persen, tepat sesuai target pemerintah. Angka itu mungkin biasa saja, tapi lihatlah data lain yang dirilis pekan lalu: surplus perdagangan mereka melonjak ke rekor baru, nyaris menyentuh US$1,2 triliun. Fantastis.
Lalu apa rahasianya? Ternyata, ekspor mereka ke negara-negara di luar Amerika Serikat melonjak drastis. Bagi banyak analis, ini bukti nyata bahwa produk Cina masih sangat kompetitif harganya di pasar global. Di sisi lain, ini juga jadi indikasi bahwa Beijing berhasil meredam dampak kebijakan proteksionis Trump.
Amanda Hsiao, Direktur Studi Cina di Eurasia Group, punya pandangan menarik.
"Pemerintahan Trump mungkin masuk Gedung Putih dengan keyakinan bisa memakai daya ungkit ekonomi untuk mendorong Cina," katanya.
"Namun pada kenyataannya, Beijing punya instrumen dan leverage sendiri. Kekuatannya sebanding."
Percaya Diri Beijing Menghadapi Trump
Kalau dibandingkan periode pertama, pendekatan Trump kali ini dinilai lebih pragmatis. Fokusnya lebih ke persaingan ekonomi dan teknologi, ketimbang urusan ideologi. Perubahan arah ini jelas terlihat dalam Strategi Keamanan Nasional AS yang dirilis Desember lalu.
Tak lama setelah dilantik, Trump langsung main tarif. Perang dagang dengan Cina pun berkobar lagi, dan Beijing tak tinggal diam. Mereka langsung balas memukul.
Puncaknya terjadi April lalu. AS memberlakukan tarif gila-gilaan, hingga 145% untuk barang-barang Cina. Beijing merespons dengan tarif balasan setinggi itu juga, plus memberlakukan pembatasan ekspor unsur tanah jarang komponen kritis untuk banyak industri high-tech.
"Pada dasarnya, kedua pihak sudah mengokang senjata dan saling mengarahkannya," ujar Amanda Hsiao menggambarkan situasi saat itu.
Tapi kemudian, keduanya seperti tersadar. Rasa sakit yang ditimbulkan bagi perekonomian masing-masing ternyata sangat besar. Setelah putaran perundingan dagang pada Mei, eskalasi berhasil dihindari. Tarif akhirnya diturunkan, dan sekarang berkisar di level 30% untuk produk dari kedua negara.
"Beijing benar-benar mengambil risiko dengan membalas Trump. Ternyata, langkah itu tepat," kata Hsiao.
Menurutnya, langkah keras Beijing itu membuat mereka kini merasa pilihannya "benar", terutama setelah Washington akhirnya mundur dan memilih detente.
Diao Daming, profesor studi internasional di Renmin University of China, melihat perubahan sikap. Dibandingkan era Trump pertama, Cina kini datang dengan kepercayaan diri yang jauh lebih besar dalam merespons ketidakpastian dari Washington.
Dalam hal ekonomi dan perdagangan, kata Diao kepada DW, AS dan Cina pada akhirnya telah membangun tingkat "mutual checks and balances" setelah setahun penuh tarik-menarik strategis.
Artikel Terkait
Koperasi Pesantren Dijadikan Kakak Asuh untuk Genjot Kopdes Merah Putih
Jenazah Ketiga Korban Jatuhnya Pesawat di Gunung Bulusaraung Akhirnya Ditemukan
Angkot Terguling di Jagorawi, Sopir Terluka Diduga Kurang Waspada Saat Hujan
Rerie Tegaskan: Indonesia Sudah Masuk Fase Krisis Iklim, Bukan Hanya Perubahan Iklim