Surplus Dagang Tembus Rekor, China Buktikan Ketangguhan Ekonomi di Bawah Tekanan Trump

- Rabu, 21 Januari 2026 | 17:45 WIB
Surplus Dagang Tembus Rekor, China Buktikan Ketangguhan Ekonomi di Bawah Tekanan Trump

Ada Apa di Balik Gencatan Dagang?

Dari pertarungan sengit, hubungan kedua raksasa ini bergerak ke arah stabilisasi yang hati-hati. Memang, persaingan strategis secara keseluruhan belum berakhir, tapi setidaknya ada napas lega.

Sepanjang 2025, Trump dan Presiden Cina Xi Jinping rajin berkomunikasi. Catatannya, empat kali percakapan telepon dan satu pertemuan langsung.

Diao menilai, diplomasi tingkat tinggi ini punya peran krusial. Dialog itu berhasil meredakan ketegangan dan sekaligus menegaskan bahwa tanpa komunikasi, konflik bisa mudah menyala.

Trump sendiri dengan khasnya memuji pertemuannya dengan Xi di Busan, Korea Selatan, Oktober lalu. Dia menyebutnya pertemuan "12 dari 10" nilai di atas sempurna. Sementara Xi mendorong kedua pihak agar fokus pada kerja sama jangka panjang, jangan sampai terjebak dalam "siklus balasan yang merusak."

Tapi jangan salah. Dari kacamata strategis, gencatan dagang ini kemungkinan besar cuma sementara. Ia bisa jadi masa jeda yang berguna bagi kedua belah pihak.

Menurut Amanda Hsiao, tujuan Beijing jelas: memanfaatkan ruang ini untuk memperkuat posisinya agar bisa bersaing lebih baik dengan AS di masa depan.

Washington juga punya kepentingan sendiri. Mereka butuh waktu untuk membangun rantai pasok mineral kritis yang mandiri. "Selama itu belum tercapai," tambah Hsiao, "AS akan tetap ingin menjaga hubungan yang relatif stabil dengan Cina."

Lantas, Bagaimana dengan 2026?

Tahun depan, Trump dan Xi diperkirakan akan bertemu empat kali. Rencananya, ada kunjungan kenegaraan Trump ke Beijing bulan April, lalu kunjungan balasan Xi ke Washington menjelang akhir tahun.

Keduanya juga kemungkinan besar bakal bertemu lagi di forum APEC di Shenzhen dan KTT G20 di Miami. Meski begitu, selain kunjungan Trump ke Beijing, Cina sendiri belum mengonfirmasi kehadiran Xi di tiga pertemuan lainnya.

Para analis masih optimis stabilitas ini akan bertahan hingga 2026. Alasan utamanya sederhana: tingkat ketergantungan ekonomi mutual mereka masih sangat tinggi, dan itu tak mudah diubah.

Tapi, faktor Trump tetaplah sumber ketidakpastian. Itu pasti jadi bahan pertimbangan serius Beijing ketika menyusun strateginya.

Amanda Hsiao memberi catatan. Aksi militer AS belakangan ini seperti penggulingan pemimpin Venezuela atau upaya Trump menguasai Greenland menciptakan "lingkungan yang memungkinkan Cina meningkatkan praktik-praktik koersifnya."

Meski kecil kemungkinan Cina mengubah kalkulasi soal invasi ke Taiwan, tindakan-tindakan Trump itu dinilai telah memperkuat keyakinan Beijing tentang satu hal: dalam politik internasional, kekuatanlah yang seringkali menentukan kebenaran.

Beijing kini "mungkin percaya bahwa mereka dapat meningkatkan tekanan... tanpa menanggung biaya yang signifikan," pungkas Hsiao. Keyakinan bahwa kekuatan besar bisa mengabaikan hukum internasional, tampaknya, makin menguat.


Halaman:

Komentar