Di sisi lain, dalam diskusi yang lebih teknis, Andre menyoroti persoalan yang kerap muncul di media sosial: krisis air bersih di Kota Padang. Ia mengaku hampir tiap hari dapat aduan warga soal PDAM mati atau sumur bor yang kering. “Ini kebutuhan dasar, tidak boleh dibiarkan berlarut,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Maria Doeni Isa menjelaskan langkah yang telah disiapkan timnya. Mereka berkoordinasi dengan pemda dan PDAM. Untuk daerah di luar jangkauan PDAM, solusinya dengan membangun sumur bor. Sementara wilayah yang terjangkau layanan, akan diperbaiki jaringan intake-nya.
“Prinsip kami sederhana, tidak ingin menimbulkan masalah baru. Yang terpenting masyarakat terlayani air bersih,” ujar Maria.
Fokus penanganan saat ini, tambahnya, ada di wilayah terdampak erupsi Gunung Marapi dan bencana lain. Beberapa titik prioritas untuk sumur bor darurat di Padang sudah ditetapkan, seperti di Masjid Kuba, Kampung Pinang, Lubuk Kilangan, hingga Rusunawa Lubuk Buaya.
Maria juga memaparkan angka yang cukup besar. Kebutuhan anggaran untuk penanganan kerusakan infrastruktur Cipta Karya di Sumbar mencapai sekitar Rp 5,75 triliun. Angka itu didapat dari rekapitulasi kerusakan akibat bencana di berbagai kabupaten dan kota.
Kerusakan tersebar di sektor-sektor vital. Yang paling parah tampaknya di sektor air minum, sanitasi, permukiman, dan gedung pemerintahan. Data ini, menurut Maria, jadi dasar penting untuk menentukan prioritas perbaikan. Semuanya harus tepat sasaran.
Artikel Terkait
Wali Kota Pekanbaru Keluarkan Larangan Tegas: Tebang Pohon Besar Tanpa Izin Dilarang
Tarif Jabatan Desa Melonjak, Bupati Pati Dijerat KPK
Wali Kota Madiun Tersangka KPK, Diduga Terima Gratifikasi Rp 1,3 Miliar dari Proyek
Dubalang dan Adat Jadi Penjaga Kunci Legalisasi Tambang Rakyat Kuansing