Suasana di sebuah rumah berwarna putih di Kelurahan Cikaret, Bogor Selatan, tampak lengang Minggu sore itu. Gerbangnya digembok. Rumah itu adalah kediaman Ferry Irawan, salah satu dari tiga pegawai KKP yang menjadi penumpang pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaurung, Pangkep.
Ketua RT setempat, Ari Fakhrizal, mengonfirmasi kabar tersebut. Ia mendapat telepon dari seorang warga yang juga rekan kerja Ferry di Kementerian Kelautan dan Perikanan sekitar pukul lima sore.
"Betul, itu warga kami," kata Ari, ditemui di kediamannya.
Ferry, menurutnya, tinggal sehari-hari di rumah itu bersama istri dan kedua anaknya. "Anaknya dua, satu SMP dan satu lagi masih SD," ujarnya.
Namun begitu, saat ini sang istri dan anak-anak telah berkumpul di rumah orang tua Ferry di Bekasi. Mereka, seperti keluarga korban lainnya, hanya bisa menunggu informasi lebih lanjut sambil berharap-harap cemas.
Sebelumnya, Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono telah menyampaikan pernyataan resmi. Dalam konferensi pers Sabtu (17/1), ia mengaku prihatin dan sedih.
"Kami nyatakan prihatin, terus terang sedih," ujar Trenggono.
Ia mengonfirmasi bahwa ada tiga pegawainya dalam pesawat tersebut. Mereka sedang menjalankan tugas pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan dari udara, atau yang disebut air surveillance.
Selain Ferry Irawan yang berpangkat Penata Muda Tingkat I, dua rekannya adalah Deden Mulyana dan Yoga Naufal. Ferry bertugas sebagai analis kapal pengawas.
Di sisi lain, di Bogor, suasana haru masih terasa. Ari Fakhrizal menggambarkan Ferry sebagai warga yang baik. Informasi yang datang silih berganti hanya menambah kecemasan, sementara keluarga besar menanti kabar pasti di Bekasi.
Artikel Terkait
Pelaku Copet Diarak dengan Kalung Saya Copet di Stasiun Tanah Abang
Mantan Sopir Truk Sidrap Berangkat Haji Setelah 16 Tahun Antre dan Tabungan Recehan
Wamendagri Minta Daerah Perbarui Data untuk Ketepatan Sasaran PBI JKN
Israel Gelar Festival LGBT Terbesar di Timur Tengah di Tengah Situasi Konflik