Keadaan di Iran memang lagi panas. Demo besar-besaran bikin sejumlah negara gerah, sampai-sampai ada yang minta warganya segera angkat kaki dari sana. Tapi, bagaimana dengan nasib ratusan Warga Negara Indonesia yang ada di sana?
Nah, dari KBRI Tehran, kabarnya sih masih terus dipantau. Menurut Heni Hamidah, Plt Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI, jumlah WNI di Iran yang tercatat ada 329 orang. Kebanyakan dari mereka tinggal di kota Qom.
"Berdasarkan asesmen KBRI dan dengan memperhatikan kondisi di lapangan saat ini belum diperlukan evakuasi," jelas Heni, Minggu lalu.
Meski begitu, dia bilang persiapan buat ngadepin kemungkinan terburuk tetep jalan. "Namun demikian persiapan mengantisipasi eskalasi situasi keamanan sesuai rencana kontigensi terus dilakukan. KBRI berkomunikasi dengan simpul-simpul WNI di Tehran dan sekitarnya," tambahnya. Intinya, mereka waspada, tapi belum sampai pada tahap harus dievakuasi massal.
Lain cerita dengan pemerintah India dan Polandia. Mereka udah keluar seruan resmi. Lewat unggahan di media sosial, Kedubes India di Tehran nyuruh warganya baik itu mahasiswa, peziarah, atau pebisnis buat segera cabut dari Iran. Padahal, biasanya ada sekitar 10 ribu warga India di sana. Polandia juga ikutan ngeluarin imbauan serupa.
Gelombang protes ini memang berat. Menurut sejumlah kelompok HAM, penindakan keras terhadap aksi massa itu bahkan dikabarkan telah menelan korban jiwa ribuan orang. Situasi yang bikin banyak pihak tegang.
Di sisi lain, ketegangan ini juga bikin negara-negara lain ikut campur. Ada upaya diplomatik yang cukup serius buat meredam eskalasi. Contohnya, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan mendesak Presiden AS Donald Trump untuk nahan dulu rencana serangan militer ke Iran. Itu diungkapin sama pejabat AS ke New York Times.
Bukan cuma Israel. Seorang pejabat tinggi Arab Saudi bilang ke AFP, bahwa Saudi bersama Qatar dan Oman juga berusaha membujuk Trump. Alasannya jelas: mereka khawatir serangan itu bakal bawa dampak buruk yang serius buat seluruh kawasan Timur Tengah. Kekhawatiran yang sangat masuk akal, sih.
Jadi, sementara beberapa negara sudah ambil langkah cepat, Indonesia masih memilih untuk bertahan dengan pendekatan yang lebih hati-hati. Semuanya tergantung pada perkembangan di lapangan. Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Tolak Pinjaman IMF-Bank Dunia, Sebut Cadangan USD25 Miliar Cukup
Pimpinan MPR Tinjau Kesiapan IKN, Tunggu Arahan Presiden untuk Pemindahan
DPRD DKI Tegaskan Perubahan Kebijakan Sampah, Fokus Beralih ke Pengurangan di Sumber
Gus Ipul Gandeng Dua Kepala Daerah Percepat Sekolah Rakyat untuk Warga Miskin