Eropa Terjebak Dilema di Balik Papan Catur Gaza yang Kontroversial

- Jumat, 16 Januari 2026 | 15:05 WIB
Eropa Terjebak Dilema di Balik Papan Catur Gaza yang Kontroversial

Lalu, kenapa sih Eropa masih tertarik? Padahal kritik terhadap BoP begitu keras.

Pada November lalu, Komisaris Uni Eropa untuk Mediterania, Dubravka Suica, menyatakan negara-negara anggota UE seharusnya duduk di BoP. Dukungan ini diperkuat dengan pernyataan bersama para pemimpin UE di Desember yang menyatakan kesiapan untuk terlibat aktif.

Think tank Carnegie Europe di Brussel sudah mengajukan pertanyaan serupa pada Oktober. Jawaban dari mayoritas pakar bisa diringkas: "ya, tapi dengan syarat."

"Uni Eropa seharusnya mengejar kursi di BoP, tapi hanya jika mampu mengubah retorika menjadi kebijakan konkret," tegas H.A. Hellyer dari Royal United Services Institute di London. Tanpa itu, kehadiran Eropa cuma akan melegitimasi proses yang tidak menjanjikan perdamaian adil.

Pandangan serupa datang dari Hussein Baoumi dari Amnesty International.

"Uni Eropa dapat mempertimbangkan untuk bergabung, tetapi hanya jika syarat-syarat kunci terpenuhi. Kerangka BoP masih kabur, sementara risiko politik, hukum, dan reputasinya sangat besar," ujarnya.

Pengacara HAM Zaha Hassan bahkan lebih tegas. Dia menegaskan bahwa keterlibatan Eropa harus disyaratkan pada kepatuhan terhadap hukum internasional. Jika tidak, Eropa justru akan memfasilitasi kejahatan perang dan menggerus tatanan berbasis aturan.

Peluang atau Jerat?

Di tengah keraguan itu, Muriel Asseburg justru melihat celah peluang. Menurutnya, Eropa bisa punya pengaruh lebih besar jika duduk di dalam BoP, dibandingkan hanya berteriak dari luar selama dua setengah tahun terakhir. Memang, peluang negosiasi dua negara hampir nihil dalam jangka pendek. Tapi Eropa masih bisa berperan lewat pendanaan rekonstruksi, dukungan teknis, dan kerja sama dengan negara-negara Arab yang punya kepentingan serupa.

"Apakah Eropa akan berhasil?" tanya Asseburg retoris. "Tanpa Amerika Serikat, tidak akan ada kemajuan. Ini satu-satunya permainan yang ada. Karena itu, Eropa seharusnya mencoba berada di dalam BoP dan memengaruhinya."

Tapi optimisme Asseburg tidak sepenuhnya dibagi Martin Konecny dari European Middle East Project. Mengingat rekam jejak Eropa di Timur Tengah dan fokus mereka yang kini lebih tertuju pada Ukraina, dia meragukan efektivitas peran Eropa.

"Risikonya, kehadiran Eropa akan 90 persen stempel persetujuan dan hanya 10 persen pengaruh," kata Konecny. Kehadiran itu, menurutnya, lebih berfungsi untuk melegitimasi skema Amerika yang dikoordinasikan dengan Israel.

Namun, dia juga mengakui dilema yang dihadapi Eropa. Tidak terlibat sama sekali juga bukan solusi, karena akan menyerahkan kendali sepenuhnya kepada AS.

"Ini akan menjadi keseimbangan yang sangat sulit bagi Eropa," ujarnya, menyimpulkan kebimbangan yang nyata.


Halaman:

Komentar