Retorika Panas dan Ancaman yang Terbuka
Di kubu lain, Presiden Donald Trump kembali bersuara lantang mendukung demonstran Iran. Lewat media sosial, ia menyatakan AS "siap membantu" rakyat Iran. Ia bahkan memperingatkan pemerintah Iran agar tidak menindak keras, dengan ancaman akan "ikut campur" jika terjadi pembunuhan massal seperti dulu.
Sejalan dengan itu, Reza Pahlavi putra mendiang Shah Iran mengajak rakyat Iran untuk merebut pusat-pusat kota. Bagi Teheran, seruan ini adalah bukti nyata intervensi kelompok diaspora yang didukung Barat.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyebut demonstran sebagai "perusak". Ia bahkan memprediksi AS akan mengalami nasib serupa dengan dinasti monarki Iran sebelum Revolusi 1979. Republik Islam, tegasnya, tidak akan mundur.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, lebih keras lagi. Ia mengancam, jika AS menyerang, maka seluruh fasilitas militer AS dan Israel akan jadi "sasaran sah". Retorika ini menunjukkan eskalasi sudah merambah ke ancaman militer langsung, bukan lagi sekadar diplomasi.
Peran Mossad dalam semua ini kian terang benderang. Seruan publik mereka yang mendorong rakyat Iran terus berprotes memperkuat dugaan bahwa operasi intelijen sudah tak lagi disamarkan. Dukungan itu bukan cuma seruan moral dalam pernyataannya tersirat bantuan operasional.
Konflik Iran-Israel yang berlangsung dua belas hari awal tahun ini juga memberi gambaran. Israel menyerang fasilitas nuklir Iran, yang dibalas dengan drone dan rudal. AS lalu ikut menargetkan titik nuklir tertentu sebelum gencatan senjata diumumkan. Rangkaian ini menunjukkan perang bayangan yang selama ini berlangsung diam-diam, kini kian terbuka dan berisiko tinggi.
Israel dituding Iran telah lama menyabotase fasilitas nuklir, membunuh ilmuwan, dan mendanai oposisi. Sementara Teheran sendiri mengakui dukungannya pada Hizbullah, Hamas, dan kelompok perlawanan lain. Siklus saling serang ini membentuk pola perang hibrida yang kompleks, di mana batas antara intelijen dan operasi militer jadi kabur.
Untuk memahami bagaimana Mossad menjadi aktor kunci, kita bisa lihat buku Mossad: The Greatest Missions of the Israeli Secret Service karya Michael Bar-Zohar dan Nissim Mishal. Terbit tahun 2010, buku ini mengurai kronik operasi intelijen Israel dari penangkapan Eichmann, pemburuan dalang Pembantaian Munich, sampai operasi sabotase di Timur Tengah.
Meski ditulis sebelum eskalasi terkini, beberapa bab awal sudah menggambarkan bagaimana Mossad menyusup ke jaringan penelitian nuklir Iran. Narasi Bar-Zohar dan Mishal menunjukkan perang bayangan antara kedua negara ini sudah berlangsung lama. Apa yang terjadi sekarang hanyalah kelanjutan dari pola konflik yang makin canggih.
Dalam wacana resminya, AS membungkus dukungan dengan narasi demokrasi dan HAM. Tapi fakta di lapangan berkata lain: narasi itu berjalan beriringan dengan mobilisasi militer, operasi siber, dan kampanye informasi terkoordinasi. Bagi Iran, ini ancaman langsung pada kedaulatan ancaman yang tak bisa dijawab cuma dengan kata-kata.
Ketegangan ini mencerminkan tantangan besar kedaulatan di era modern. Operasi intelijen bisa mengalahkan diplomasi, narasi demokrasi bisa jadi alat intervensi, dan protes domestik bisa berubah jadi bagian dari perang geopolitik global.
Masa depan Iran dan stabilitas kawasan kini ditentukan oleh bagaimana masing-masing pihak memahami batas antara advokasi dan intervensi. Bagi Iran, ini pertarungan untuk keberlanjutan negara. Bagi AS dan Israel, ini pertarungan untuk membentuk ulang peta keamanan Timur Tengah.
Konflik ini memperlihatkan bahwa kedaulatan sebuah negara tak hanya terancam oleh perang terbuka. Ancaman yang lebih halus operasi intelijen yang bergerak senyap justru berdampak sangat dalam. Strategi tekanan AS, operasi rahasia Mossad, dan respons keras Teheran membentuk babak baru geopolitik yang akan menentukan arah kawasan, bahkan mungkin dunia.
Aji Cahyono. Pemerhati Isu Geopolitik Indonesia & Timur Tengah; Founder & Direktur Eksekutif Indonesian Coexistence.
Artikel Terkait
Pak Ogah Masih Beraksi, Warga Tol Rawa Buaya Minta Dishub Turun Tangan
Medali Nobel Machado untuk Trump: Simbol Politik yang Tak Sederhana
40 Unit ETLE Genggam Resmi Beroperasi di Jakarta, Polisi: Mata Digital Kini Lebih Lincah
Modus Baru Korupsi TKA: Mantan Sekjen Kemnaker Tampung Rp 12 Miliar Lewat Rekening Orang Lain