Namun begitu, tanggapan dari pihak Hamas datang dengan nada hati-hati. Bassem Naim, salah seorang pemimpin seniornya, menyatakan bahwa bola kini ada di pihak mediator, penjamin AS, dan komunitas internasional untuk memberdayakan komite tersebut.
Pernyataannya itu disampaikan Kamis lalu, sehari sebelum pengumuman Trump.
Sebenarnya, rencana perdamaian yang didukung AS ini sudah jalan sejak Oktober tahun lalu. Fase pertamanya berhasil memfasilitasi pemulangan sandera dan menghentikan pertempuran setidaknya untuk sementara. Sekarang kita masuk fase kedua, meski jalan yang ditempuh tidak mulus. Masih ada banyak masalah menggantung. Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, contohnya, melaporkan bahwa 451 orang tewas sejak gencatan senjata resmi berlaku. Angka yang tentu saja memprihatinkan.
Di sisi lain, bagi rakyat Palestina, satu hal paling utama adalah penarikan penuh militer Israel dari Gaza. Sementara itu, Hamas sendiri tampaknya masih enggan berkomitmen secara terbuka untuk perlucutan senjata total sebuah tuntutan yang bagi Israel sama sekali tidak bisa ditawar. Jadi, meski dewan perdamaian sudah dibentuk, medan yang harus ditempuh tetap terjal.
Artikel Terkait
Kapolri Sorot Dampak Ekonomi dari Operasi Ketupat 2026
Metro TV Siarkan Program Ramadan dan Berita 24 Jam pada Selasa, 3 Maret 2026
Wakil Ketua MPR Peringatkan Ketegangan Selat Hormuz Ancam Stabilitas Harga Minyak Indonesia
Golkar Desak PBB Ambil Langkah Konkret Hentikan Perang di Timur Tengah