Banjir lagi. Itu mungkin yang terpikir oleh warga di beberapa wilayah Pandeglang, Banten, saat hujan deras mengguyur. Nyaris tiap tahun, genangan air datang, mengganggu aktivitas, dan merusak rumah. Kali ini, Agus Khatibul Umam, Ketua DPRD setempat, merasa sudah cukup. Ia mendesak pemerintah kabupaten untuk segera mencari solusi permanen, bukan sekadar tanggap darurat.
"Soal banjir paling tidak bisa diatasi. Harus dicarikan solusinya," tegas Agus.
Ia menyampaikan hal itu Kamis lalu, saat menyerahkan bantuan untuk korban di Desa Idaman, Kecamatan Patia. Menurutnya, curah hujan tinggi memang pemicu, tapi yang jadi masalah adalah luapan Sungai Cilemer dan Ciliman yang tak terbendung. Beberapa daerah di selatan Pandeglang pun jadi langganan banjir.
Solusinya? Agus punya usulan konkret. "Dibikin tanggul, atau waduk," ucapnya singkat.
Namun begitu, ia mengakui bahwa realisasi ide itu tidak mudah. Anggaran daerah terbatas, sehingga membangun infrastruktur semacam itu untuk jangka panjang terasa berat. Itulah sebabnya, ia menekankan pentingnya komunikasi yang lebih intens. Pemkab, dalam pandangannya, harus aktif menjalin koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat untuk mendapatkan bantuan pendanaan.
"Kita masih bicara soal anggaran belum ada, tapi komunikasi dengan pusat itu ada untuk membantu wilayah Kecamatan Patia," jelas Agus.
Di sisi lain, persoalan mendesak juga tak boleh diabaikan. Agus menekankan agar Pemkab lebih memperhatikan kebutuhan logistik warga yang terdampak. Koordinasi dengan pemerintah desa setempat ia anggap kunci, agar bantuan tepat sasaran dan tidak ada yang kelaparan di tengah kesulitan.
"Harus diperhatikan juga kebutuhan bayi, keluarga, jangan sampai kekurangan, harus ada koordinasi antara pemerintah daerah dengan pemerintah desa," katanya lagi.
Skala bencana kali ini memang cukup besar. Sehari sebelumnya, Rabu (14/1), Kepala BPBD Pandeglang Riza Ahmad Kurniawan memberikan data yang cukup mencengangkan. Menurut catatannya, banjir telah berdampak pada sekitar 29 ribu jiwa.
"Dari 12 kecamatan, ada 7.000 KK, sekitar 29 ribu jiwa," papar Riza kepada para wartawan.
Angka itu jelas bukan hal sepele. Dan bagi Agus serta warga yang terus menerus was-was setiap musim hujan, langkah nyata harus segera dimulai, sebelum banjir berikutnya datang lagi.
Artikel Terkait
Polisi Ungkap Kronologi Perusakan Kaca Mobil oleh Dua Sopir Angkot di Kampung Rambutan Dipicu Lawan Arah
Penjaga Kafe di Bandar Lampung Ditangkap, Jadi Anggota Komplotan Pencuri Kabel PLN
Mei 2026 Penuh Tanggal Merah dan Peringatan, Pemerintah Tetapkan Empat Hari Libur Nasional
Puan Maharani Soroti Maraknya Kecurangan UTBK 2026, Desak Evaluasi Sistem Pengawasan