Edi kala itu melakukan penerjunan tandem dengan rekannya, Sgt. Sabado dari Socom Filipina. Semula, semuanya berjalan normal. Hingga ketinggian 5.000 kaki, posisi mereka masih stabil. Tapi situasi mendadak berubah drastis saat altimeter menunjukkan angka 3.000 kaki. Edi menyadari sesuatu yang mengerikan: Sgt. Sabado tak bergerak, blackout di udara.
Waktu seolah melambat. Tanpa pikir panjang, Edi segera memburu rekannya di angkasa. Mid-air chase yang dia lakukan penuh risiko, mengabaikan keselamatannya sendiri. Dengan kecepatan tinggi dan sisa ketinggian yang menipis, dia berhasil meraih dan menarik payung utama Sabado. Payung itu akhirnya mengembang sempurna.
Tapi masalah baru muncul. Aksi heroik itu membuat Edi kehilangan ketinggian aman untuk dirinya sendiri. Saat dia menarik tuas payung utamanya, malang payungnya tak mau terkembang dengan baik. Upaya darurat dengan menarik payung cadangan pun nasibnya sama. Hasilnya bisa ditebak: dia terjun bebas dan mendarat keras, menabrak pepohonan sebelum akhirnya menghujam tanah.
Pengorbanan itulah, keberanian mengambil risiko fatal demi nyawa orang lain, yang membuatnya dinilai layak menerima Sangkur Perak. Sebuah keputusan yang rasanya tak ada yang meragukan.
Di sisi lain, penghargaan serupa juga diberikan kepada prajurit-prajurit lain yang menunjukkan kinerja luar biasa di beberapa penugasan di wilayah Papua. Detail operasi mereka mungkin tak sebenderang kisah Edi, tapi kontribusinya tak kalah penting.
Pada akhirnya, penganugerahan ini lebih dari sekadar upacara. Ini adalah simbol kehormatan bagi mereka yang telah membuktikan loyalitas dan jiwa pengabdian tanpa batas untuk bangsa. Korps Baret Merah kembali mencatatkan nama-nama pahlawan di barisannya.
Artikel Terkait
Mobil Rubicon Atas Nama Asisten, Saksi di Sidang Tipikor Cuma Bilang Tak Tahu
Wiyagus: Indonesia Maju Jika Desa Tak Lagi Jadi Pengekor
Mendagri Tito Soroti Kemandirian Fiskal sebagai Kunci Laju Daerah
KPK Siap Jerat Mantan Sekjen Kemnaker dengan Pasal Pencucian Uang