Upacara di Markas Kopassus pagi itu berlangsung khidmat. Letjen TNI Djon Afriandi, Panglima Korps Baret Merah, menganugerahkan Sangkur Perak kepada delapan prajuritnya. Penghargaan ini, tentu saja, bukan sembarangan. Ini adalah bentuk pengakuan tertinggi atas dedikasi dan keteladanan mereka yang dinilai telah bekerja jauh melampaui panggilan tugas.
Di antara para penerima, hanya dua yang bisa hadir secara fisik: Serma Wardoyo dan Serma Edi Sutono. Enam prajurit lainnya? Mereka masih bertugas di daerah operasi, menjaga garis depan. Kehadiran mereka terasa lewat nama-nama yang disebut, sebuah pengingat bahwa pengabdian tak selalu bisa dirayakan di tempat yang sama.
Dalam amanatnya, Djon tak pelit memberikan pujian. Dia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya. Menurutnya, prestasi gemilang yang ditorehkan para prajurit ini harus jadi pemacu semangat bagi seluruh jajaran Kopassus.
"Teruslah berbuat yang terbaik, tulus, dan ikhlas pada setiap penugasan,"
tegas Djon Afriandi di hadapan peserta upacara, Rabu (14/1/2026) lalu.
Namun begitu, sorotan utama banyak tertuju pada satu nama: Serma Edi Sutono. Kisah di balik pisau komando perak yang dia terima benar-benar luar biasa. Semuanya berawal dari Latma DOLPHINE XVI-2024, saat sebuah latihan penerjunan freefall dari ketinggian 10.000 kaki berubah jadi misi penyelamatan nyata.
Artikel Terkait
Mobil Rubicon Atas Nama Asisten, Saksi di Sidang Tipikor Cuma Bilang Tak Tahu
Wiyagus: Indonesia Maju Jika Desa Tak Lagi Jadi Pengekor
Mendagri Tito Soroti Kemandirian Fiskal sebagai Kunci Laju Daerah
KPK Siap Jerat Mantan Sekjen Kemnaker dengan Pasal Pencucian Uang