Ini langka. Jarang sekali kita melihat pemimpin dunia dan masyarakat global marah pada hal yang sama. Bukan pada perang atau krisis, melainkan pada sebuah pencapaian teknologi. Alih-alih disambut suka cita, terobosan terbaru justru memantik amarah yang meluas. Lalu muncul pertanyaan mendasar: untuk apa sebenarnya teknologi dikembangkan? Dan adakah batas yang bisa menghentikannya?
Nyatanya, perkembangan itu justru seperti mendorong manusia ke tepi jurang. Kita bukan lagi pengendali, tapi calon korban dari manipulasi yang kita ciptakan sendiri.
Semuanya berawal di awal 2026. Saat itu, fitur Grok chatbot dari platform X yang dikembangkan xAI milik Elon Musk memperlihatkan kemampuan barunya. Dengan mengandalkan model bahasa besar (LLM), alat ini bisa mengubah foto siapa saja menjadi apa saja. Cukup dengan perintah sederhana.
Sebenarnya, kemampuan mengedit foto bukan hal baru. Sebelumnya, Grok sudah bisa mengubah foto biasa menjadi gaya animasi Ghibli atau poster film Pixar. Tapi kebaruan kali ini lain sama sekali. Fitur ini memungkinkan foto siapa pun diubah menjadi deepfake pornografi.
Dan ini bukan sekadar gambar telanjang. Ini eksploitasi. Objeknya dieksploitasi, dan hasrat penikmatnya dipuaskan dengan cara yang merusak.
Konsekuensinya mengerikan. Jika ‘siapa pun’ bisa mengartikulasikan pikiran cabulnya, maka ‘siapa pun’ juga bisa menjadi korbannya. Kekhawatiran itu bukan teori belaka. Pekan lalu, didorong euforia uji coba fitur baru, linimasa X dibanjiri gambar-gambar seronok. Banyak di antaranya diduga dibuat tanpa izin dari pemilik foto asli. Ramai punlah pembicaraan.
Keramaian itu penuh kekhawatiran, yang kemudian memuncak jadi kemarahan global. Bagaimana tidak? Foto-foto perempuan yang tak biasa berpose terbuka, bahkan foto anak-anak, diubah menjadi konten porno. Mungkin orang sadar: tinggal menunggu waktu sebelum mereka menjadi korban berikutnya.
Pada 8 Januari 2026, sejumlah media melaporkan gelombang protes dari berbagai negara. Prancis, India, Malaysia, dan Indonesia mengecam keras kemampuan Grok AI ini. Protes itu diikuti dengan penyelidikan soal penyalahgunaan data dan peredaran materi terlarang, terutama yang menyangkut anak di bawah umur.
Belakangan, Pemerintah Indonesia lewat Komdigi memblokir akses ke chatbot tersebut. Tindakan ini disebut sebagai bentuk perlindungan kepada warga. Tak lama setelahnya, Malaysia mengambil langkah serupa.
Kemarahan yang disertai rasa putus asa seperti ini jarang terjadi. Bahkan, mungkin tak terpikirkan sebelumnya: ada kemajuan teknologi yang langsung ditolak secara serempak oleh dunia.
Penolakan itu muncul karena manusia merasa terus tergerus eksistensinya oleh perangkat AI. Teknologi ini kian mantap menuju suatu titik yang disebut singularitas. Nah, di sinilah masalahnya. Tanpa peta yang jelas tentang bagaimana manusia akan bertahan di era singularitas, kemarahan dengan mudah berubah jadi keputusasaan.
Lalu, apa itu singularitas? Singkatnya, ini adalah titik di mana perubahan teknologi terjadi begitu cepat dan mendasar, sehingga dunia setelahnya tak bisa lagi diprediksi dengan logika lama. Konsep ini dipopulerkan Ray Kurzweil dalam bukunya tahun 2005. Ia percaya, saat komputer melampaui kecerdasan manusia, kita justru akan terhubung secara neurologis dengannya. Manfaatnya, kata dia, akan lebih besar daripada kerugiannya.
Tapi Kurzweil bukan yang pertama punya gagasan ini.
Artikel Terkait
Sugiono Candakan Kekurangan Wakil Menteri di Tengah Kesibukan Kemlu
Polisi Palembang Siasat Badut Doraemon Tangkap Residivis Maling Motor
Inspirasi Tema Peringatan Isra Mikraj 2026 untuk Sekolah dan Masjid
Palet Warna di Jalur Merah: Kisah Tersembunyi di Balik Dinding Stasiun KRL