Di sisi lain, narasi dari pejabat Iran yang berbicara kepada Reuters justru berbeda. Mereka menyebut bahwa yang bertanggung jawab atas kematian itu adalah "teroris". Entah siapa yang dimaksud, pejabat itu tidak memberikan rincian lebih lanjut, termasuk soal identitas korban.
Namun begitu, tekanan dari Trump tak berhenti di pernyataan saja. Sehari sebelumnya, Senin malam, ia mengumumkan langkah ekonomi yang keras: tarif impor 25% untuk produk dari negara mana pun yang masih berbisnis dengan Iran. Ini langkah signifikan, mengingat Iran adalah eksportir minyak utama.
Dan itu belum semuanya. Trump juga mengisyaratkan opsi militer. "Kami siap siaga," tegasnya, menyebut tindakan militer sebagai salah satu cara yang dipertimbangkan untuk menghukum Iran atas tindakan keras terhadap demonstran.
Sampai saat ini, Iran sendiri tampaknya masih memilih diam. Belum ada tanggapan resmi pemerintah mereka terhadap pengumuman tarif Trump itu. Padahal, sanksi AS sebelumnya sudah sangat membebani. Negeri itu selama ini mengandalkan ekspor minyaknya ke China, dengan beberapa mitra dagang lain seperti Turki, Irak, Uni Emirat Arab, dan India.
Artikel Terkait
Buruh Jakarta Tuntut UMP Rp 5,89 Juta, Aksi Besar-Besaran Digelar Besok
KPK Tunggu Kalkulasi BPK Sebelum Periksa Yaqut sebagai Tersangka
Korban Tewas Gelombang Protes Iran Tembus Dua Ribu Jiwa
Gencatan Senjata Gaza: Seratus Nyawa Anak Terenggut di Tengah Gencatan