Tapi rupanya, langkah diplomasi kita cukup jitu. "Tampaknya kualitas diplomasi RI seminggu terakhir sangat mujarab," katanya. Pandangan kritis Indonesia soal serangan AS ke Venezuela, yang berlandaskan hukum internasional dan solusi dialog, disebut berhasil meredam arogansi pihak tertentu.
Di sisi lain, ada harapan besar yang menggelayut. Publik dalam negeri, kata Rezasyah, justru ingin pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bersikap lebih tegas di panggung global. Apalagi melihat dinamika geopolitik saat ini yang makin panas.
"Namun pada saat yang sama, publik Indonesia sebenarnya berharap pemerintahan Presiden Prabowo bersikap lebih keras. Karena pemerintah AS yang sedang diatas angin, berpotensi menyerang negara-negara yang lain. Termasuk mengincar Indonesia, yang memiliki kandungan SDA dalam jumlah fantastis," tuturnya tegas.
Penetapan Indonesia ini terjadi pada pertemuan di Jenewa tanggal 8 Januari lalu, bertepatan dengan organizational meeting pertama tahun 2026 dan peringatan 20 tahun Dewan HAM PBB. Prosesnya sendiri diawali dari pemilihan di tingkat kelompok Asia-Pasifik, di mana Indonesia berhasil meraih dukungan.
Semua ini tentu hasil kerja keras. Kemenlu dengan seluruh perwakilan RI di luar negeri berkoordinasi mati-matian, plus melakukan pendekatan diplomatik intensif dengan berbagai kedutaan sahabat di Jakarta. Semuanya terkoordinasi dengan rapi.
Nantinya, jabatan prestisius ini akan diemban oleh Duta Besar Sidharto Reza Suryodipuro, Wakil Tetap RI di Jenewa. Sosoknya bukan main-main; karir diplomatiknya panjang. Sebelumnya, Sidharto pernah menjabat sebagai Dirjen Kerja Sama ASEAN dan juga Duta Besar RI untuk India serta Bhutan. Pengalaman yang mumpuni untuk tugas berat ini.
Artikel Terkait
Dua Pencuri Motor Tembaki Warga, Ditangkap Usai Buron ke Yogyakarta dan Cimahi
Drone Misterius di Perbatasan Korea: Klaim, Bantahan, dan Ancaman Diplomatik
KPK Beberkan Modus Korupsi Kuota Haji Tambahan, Mantan Menag Yaqut Ditahan
Suap Pajak Rp75 Miliar, DJP Minta Maaf ke Publik