Di gedung Kemendagri, Jakarta Pusat, Kamis lalu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka suara soal nasib lumpur sisa banjir di Sumatera. Pemerintah punya usulan. Daripada dibuang, tumpukan lumpur itu dianggap bisa dimanfaatkan untuk membangun tanggul.
“Kalau untuk lumpur, diskusi kami dengan Pak Menhan (Sjafrie Sjamsoeddin) beliau ingin agar ini digunakan sebagai tanggul,” ujar Tito.
Ia melanjutkan dengan penjelasan yang lebih gamblang. Menurutnya, banyak tanggul dan sungai yang sudah dangkal karena sedimentasi. Akibatnya, hujan sedikit saja air sudah mudah meluap ke pemukiman warga di sekitarnya. Nah, lumpur yang dikeruk itu bisa dijadikan bahan untuk memperkuat tanggul di kiri kanan sungai.
Memang, sempat beredar kabar ada pihak yang berminat membeli material lumpur tersebut. Tito mengakuinya, tapi ia belum mendapat konfirmasi yang jelas soal hal itu. “Katanya ada yang mau membeli lumpurnya, saya belum mendapat informasi yang pasti A1 belum,” jelasnya.
Namun begitu, saran dari Menhan Sjafrie Sjamsoeddin lebih mengemuka. Alih-alih dijual, lumpur lebih baik dipakai untuk memperkuat pertahanan sungai. Tujuannya jelas: mencegah luapan air di masa mendatang.
“Pak Menhan berpendapat menyarankan supaya lumpurnya dipakai untuk jadikan tanggul,” kata Tito menirukan saran koleganya itu, “untuk memperkuat jangan sampai nanti kalau ada banjir, air lagi kemudian tumpah ke kiri kanan gitu.”
Lalu bagaimana dengan kayu-kayu gelondongan yang ikut terseret banjir? Nasibnya tak kalah penting. Tito menyebut, kayu-kayu itu sudah banyak diambil warga untuk membangun kembali rumah mereka. Itu hal yang bagus, asal...
“Artinya kayu-kayu itu sedapat mungkin digunakan kembali untuk kepentingan pembangunan ini, untuk rehabilitasi rekonstruksi ini ya,” imbuhnya.
Ia memberi catatan. Penggunaannya harus dimaksimalkan untuk kepentingan pemulihan, bukan malah dikomersialkan. “Dimaksimalkan seperti itu, cuma prosedurnya jangan sampai melanggar. Jangan sampai nanti dipotong-potong terus dijual kepada untuk komersial.”
Jadi, intinya pemerintah ingin semua material sisa bencana itu dikelola dengan bijak. Lumpur untuk menguatkan sungai, kayu untuk membangun kembali. Semua demi pemulihan yang lebih tangguh.
Artikel Terkait
Polisi Ajukan Red Notice ke Interpol untuk Buru Otak Pengiriman Pekerja Migran Ilegal ke Kamboja
Ratusan Wali Santri Jemput Anak dari Ponpes Pedang Ati usai Kasus Pencabulan Pimpinan Terbongkar
Ombudsman Dorong Santir dan Pesantren Laporkan Maladministrasi Tanpa Ragu
Polisi Segera Tetapkan Tersangka Perusakan Lapas Narkotika Bolangi Gowa