"Rata-rata yang bersangkutan merupakan korban bullying di sekolah atau di lingkungan masyarakat, jadi di luar sekolah," jelas Mayndra.
Faktor lainnya adalah rumah yang tidak harmonis, kurangnya perhatian, akses gadget berlebihan, hingga paparan konten pornografi. Di tengah situasi itu, komunitas online ini justru dianggap sebagai "rumah kedua".
"Aspirasi mereka didengarkan di sana. Terjadi interaksi, dialog, dan mereka saling memberi masukan untuk menyelesaikan masalah tentunya dengan cara-cara kekerasan," terangnya.
Namun begitu, Mayndra menekankan bahwa anak-anak ini belum sepenuhnya menganut paham ekstrem tersebut. "Mereka hanya menjadikannya inspirasi, dan tadi, rumah kedua bagi mereka."
Meski disebut belum menganut penuh, aksi yang terungkap cukup serius. Sebagian member diketahui membeli replika senjata, menargetkan orang-orang yang dianggap sebagai pembuli di sekolah.
"Ada replika senjata api dan busur. Mereka menuliskan paham, tokoh idolanya, dan narasi-narasi tertentu di replika itu sebagai simbol. Juga ada pisau," rincinya.
Tak cuma senjata. Atribut bermiliter, komponen elektronik, bahkan bahan peledak berbahaya juga teridentifikasi. Buku dan konten bermuatan ideologis lengkap melengkapi temuan ini, menggambarkan betapa dalamnya penetrasi paham tersebut di kalangan remaja yang rentan.
Artikel Terkait
BEI Ungkap 9 Emiten dengan Kepemilikan Saham Terlalu Terkonsentrasi
Presiden Prabowo Dikawal Enam Jet Tempur dalam Penerbangan ke Magelang, Sambut HUT ke-80 TNI AU
Pemerintah Arahkan Motor Listrik untuk Pasar Domestik, Motor BBM Digenjot Ekspor
Anggota DPR Ingatkan Ulang Ancaman Kolaps BPJS Kesehatan pada 2026