Di sisi lain, respons dari Copenhagen justru sangat keras. Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, langsung mengecam wacana itu. Dia tak ragu menyebut bahwa langkah semacam itu akan menjadi akhir dari segalanya termasuk aliansi NATO.
Kekhawatiran Denmark dan Greenland sendiri memuncak setelah aksi militer AS di Venezuela akhir pekan lalu. Operasi penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, di Caracas itu dianggap sebagai preseden yang mengkhawatirkan.
Pernyataan serupa juga datang dari Perdana Menteri Greenland, Jens Frederik Nielsen. Mereka berdua memperingatkan konsekuensi parah dari langkah sepihak AS. Banyak pemimpin Eropa lain pun mulai menyatakan solidaritas terhadap posisi Denmark.
Jadi, situasinya kini cukup tegang. Di satu sisi, Trump tampak serius dengan ambisi teritorialnya yang lama. Di sisi lain, sekutu lamanya di NATO justru mengancam akan memutuskan segala ikatan. Greenland, dengan kekayaan mineral dan posisi strategisnya di Arktik, sekali lagi menjadi pusat badai geopolitik yang bisa mengubah peta aliansi global.
Artikel Terkait
Venezuela Angkat Bicara: Kami Takkan Tunduk pada Tekanan AS
Darurat Sampah Tangsel Berlanjut, Status Diperpanjang Hingga Pertengahan Januari
Ammar Zoni Menangis Saat Akui Keterlibatan dalam Jaringan Narkoba Rutan Salemba
Dapur Gizi di Sragen Dipaksa Pindah Usai Berdampingan dengan Kandang Babi