Pekan depan, tiang-tiang monorel yang sudah lama mangkrak di Jakarta akhirnya akan mulai dibongkar. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memastikan hal itu. Yang menarik, proses pembongkaran ini rencananya tak akan tutup jalan. Jadi, lalu lintas diharapkan tetap lancar.
"Pembongkaran monorel akan kami lakukan minggu ketiga, apakah hari Selasa atau Rabu depan. Dan untuk itu tidak dilakukan penutupan jalan,"
kata Pramono di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Selasa lalu.
Menurutnya, Dinas Bina Marga DKI yang akan mengoordinasi semuanya. Mereka punya pengalaman dari proyek serupa sebelumnya. Keselamatan dan kelancaran arus kendaraan jadi prioritas utama. "Dengan pengalaman yang ada, Bina Marga akan berkoordinasi untuk melakukan pembongkaran, tanpa penutupan jalan," ujarnya lagi.
Soal pelaksana, Pramono tegas. Pekerjaan ini sepenuhnya diambil alih Pemprov DKI. Kenapa? Ternyata, pihaknya sudah lebih dulu menyurati PT Adhi Karya untuk membongkar. Tapi batas waktu yang diberikan lewat tanpa ada realisasi.
"Yang melakukan pembongkaran adalah Pemerintah DKI Jakarta, Bina Marga. Kenapa tidak dilakukan oleh Adhi Karya? Karena Adhi Karya sudah kami surati dan batas waktunya sudah lewat, sehingga kami akan melakukan sendiri,"
jelasnya panjang lebar.
Nah, saat ini ada sekitar 90 tiang yang masih berdiri tegak, membentang dari Jalan HR Rasuna Said hingga Jalan Asia Afrika. Mereka seperti saksi bisu proyek ambisius yang tak kunjung rampung.
Cerita monorel ini memang panjang. Proyeknya sendiri dicanangkan jauh hari, tepatnya tahun 2004. Presiden Megawati Soekarnoputri kala itu meresmikan pemancangan tiang pertama di Senayan. Sorak sorai dan sirene yang ditekan sekitar pukul setengah sebelas pagi seolah menjadi awal dari sebuah harapan besar.
Sayangnya, harapan itu tak pernah jadi kenyataan. Di bawah kepemimpinan Gubernur Sutiyoso, proyek mulai tersendat. Lalu pada 2008, masalah serius muncul. PT Jakarta Monorail selaku pengembang dikabarkan kelimpungan mencari dana segar. Nilai proyek yang mencapai 450 juta dolar AS itu terancam. Mereka mengaku tak sanggup memenuhi syarat investasi tambahan senilai 144 juta dolar.
Alhasil, tiang-tiang yang sudah terlanjur dibangun pun terbengkalai. Mereka jadi semacam monumen yang tak berguna di tengah hiruk-pikuk ibu kota.
Keputusan akhir untuk menghentikan proyek secara resmi baru diambil di era Gubernur Fauzi Bowo, tahun 2011. Waktu itu, PT JM meminta ganti rugi investasi yang mencapai angka fantastis: Rp 600 miliar. Namun Foke, sapaan Fauzi Bowo, menolak mentah-mentah. Posisi Pemprov DKI saat itu jelas, mereka hanya akan membayar sesuai rekomendasi BPKP. Dan sejak saat itulah, nasib monorel Jakarta benar-benar berakhir di titik nadir.
Sekarang, setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari pemandangan kota yang dianggap gagal, akhirnya tiang-tiang itu akan diturunkan. Langkah kecil untuk memperbaiki wajah Jakarta, setidaknya itu yang diharapkan.
Artikel Terkait
Brimob Polda Metro Jaya Bagikan Ratusan Takjil Gratis di Jakarta Timur
Indonesia Tegaskan Dukungan Tak Tergoyahkan bagi Palestina di Sidang Dewan HAM PBB
Whoosh Luncurkan Promo Tiket Rombongan Rp 200.000 untuk Rute Jakarta-Bandung
Manchester United Kejar Tiket Liga Champions dengan Misi Balas Dendam ke Everton