Nah, saat ini ada sekitar 90 tiang yang masih berdiri tegak, membentang dari Jalan HR Rasuna Said hingga Jalan Asia Afrika. Mereka seperti saksi bisu proyek ambisius yang tak kunjung rampung.
Cerita monorel ini memang panjang. Proyeknya sendiri dicanangkan jauh hari, tepatnya tahun 2004. Presiden Megawati Soekarnoputri kala itu meresmikan pemancangan tiang pertama di Senayan. Sorak sorai dan sirene yang ditekan sekitar pukul setengah sebelas pagi seolah menjadi awal dari sebuah harapan besar.
Sayangnya, harapan itu tak pernah jadi kenyataan. Di bawah kepemimpinan Gubernur Sutiyoso, proyek mulai tersendat. Lalu pada 2008, masalah serius muncul. PT Jakarta Monorail selaku pengembang dikabarkan kelimpungan mencari dana segar. Nilai proyek yang mencapai 450 juta dolar AS itu terancam. Mereka mengaku tak sanggup memenuhi syarat investasi tambahan senilai 144 juta dolar.
Alhasil, tiang-tiang yang sudah terlanjur dibangun pun terbengkalai. Mereka jadi semacam monumen yang tak berguna di tengah hiruk-pikuk ibu kota.
Keputusan akhir untuk menghentikan proyek secara resmi baru diambil di era Gubernur Fauzi Bowo, tahun 2011. Waktu itu, PT JM meminta ganti rugi investasi yang mencapai angka fantastis: Rp 600 miliar. Namun Foke, sapaan Fauzi Bowo, menolak mentah-mentah. Posisi Pemprov DKI saat itu jelas, mereka hanya akan membayar sesuai rekomendasi BPKP. Dan sejak saat itulah, nasib monorel Jakarta benar-benar berakhir di titik nadir.
Sekarang, setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari pemandangan kota yang dianggap gagal, akhirnya tiang-tiang itu akan diturunkan. Langkah kecil untuk memperbaiki wajah Jakarta, setidaknya itu yang diharapkan.
Artikel Terkait
Tragedi di Gaza: Drone Israel Tewaskan Empat Anak dalam Serangan ke Tenda Pengungsi
Survei LSI: Mayoritas Publik Tolak Pilkada Lewat DPRD, Istana Angkat Bicara
Dua Prajurit Atlet Langsung Naik Pangkat Usai Bawa Emas SEA Games
Sisa Kayu Banjir Lalu Kembali Hanyut di Sungai Wih Gile