Usai pembongkaran, kedua orang itu hilang bagai ditelan bumi. Tak ada kabar, apalagi realisasi dana yang dijanjikan. "Tidak ada sama sekali," keluh Budi. "Tidak ada dana masuk setelah pembongkaran itu."
Upaya komunikasi akhirnya bisa dilakukan dengan yayasan yang disebut-sebut di belakang donatur itu. Hasilnya? Pihak yayasan mengaku belum bisa memutuskan apa-apa. Mereka bilang, perlu persetujuan pimpinan lebih dulu. Alias, mandek.
Situasi ini jelas memukul warga. Di Pedukuhan Gari, masjid itu adalah satu-satunya. Kini, sekitar 320 kepala keluarga atau 850 jiwa terpaksa menyesaki musala-musala kecil untuk beribadah. Kondisinya memang darurat.
"Karena posisi masjid sekarang sudah rata dengan tanah," tutur Budi, menggambarkan kekosongan yang tertinggal.
Kini, yang tersisa hanya penyesalan dan tumpukan puing. Janji tinggal janji, sementara warga harus berjuang mencari tempat untuk sekadar menunaikan shalat berjamaah.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Pelaku Penculikan dan Penyekapan Anak 10 Tahun di Cirebon
Geopolitik Panas Ganggu Pasokan Minyak, Aktivis Dorong Percepatan Pengurangan Plastik Sekali Pakai
Empat Pelaku Penipuan Mengatasnamakan Pimpinan KPK Ditangkap di Jakarta
Dari Limbah Gula Merah Bone, Dainichi Kuasai 90% Pasar Indonesia Timur