Seorang mantan jenderal Angkatan Udara Filipina akhirnya ditangkap. Dia dituduh telah menghasut, mendorong militer untuk meninggalkan Presiden Ferdinand Marcos Jr. Penangkapan ini menambah daftar panjang ketegangan politik di negara itu.
Menurut laporan AFP, Senin (5/1/2026), yang bersangkutan adalah Romeo Poquiz. Ia diamankan oleh aparat kepolisian di Bandara Internasional Manila, tepat pada hari Senin waktu setempat. Penangkapan terjadi tak lama setelah Poquiz secara terbuka menyerukan agar Angkatan Bersenjata Filipina menarik dukungan mereka dari Marcos Jr. Seruan itu muncul di tengah skandal korupsi yang terus melebar.
Jonvic Remulla, Sekretaris Departemen Dalam Negeri Filipina, memberikan konfirmasi kepada AFP.
"Dia ditangkap atas tuduhan penghasutan sehubungan dengan pernyataannya baru-baru ini. Dia ditangkap saat tiba dari Bangkok pagi ini," jelas Remulla.
Menurutnya, Poquiz baru saja kembali dari liburan di Thailand.
Di sisi lain, dalam sebuah konferensi pers, Pelaksana Tugas Kepala Kepolisian Filipina Jose Nartatez menyebut penangkapan ini berdasarkan surat perintah yang telah terbit sejak 5 Desember. Prosedurnya sudah berjalan sesuai aturan.
Yang menarik, sang mantan jenderal berusia 67 tahun itu justru mengonfirmasi sendiri penangkapannya. Ia membuat unggahan di Facebook yang cukup blak-blakan.
"Saya ditangkap (oleh Kelompok Investigasi dan Deteksi Kriminal Kepolisian Nasional Filipina) di Terminal Bandara ... Hidup Filipina!" tulis Poquiz.
Dari unggahan itu juga diketahui, ia kemudian dibawa ke markas besar polisi di Camp Crame, Manila. Situasinya memang panas, dan kasus ini kemungkinan besar akan terus bergulir.
Artikel Terkait
Harga Daging Sapi Tembus Rp150.000 per Kg di Pasar Kebayoran Saat Ramadan
Stasiun Depok Baru Dinilai Tidak Aksesibel, Warga Keluhkan Ketiadaan Lift untuk Pindah Peron
Konami Umumkan Castlevania: Belmonts Curse, Rilis 2026 untuk Rayakan 40 Tahun Warisan
Mantan Pacar dan Suami Cekik Korban hingga Mobil Rp 180 Juta Dicuri di Tol Karang Tengah