Namun begitu, situasi di lapangan tak selalu berjalan damai. Di sejumlah area, unjuk rasa berubah ricuh. Otoritas di Teheran punya narasi sendiri untuk kekerasan ini. Mereka menuding ada "kekuatan eksternal" yang menghasut para pengunjuk rasa, mengubah aksi damai jadi kerusuhan.
Korban jiwa, sayangnya, sudah berjatuhan. Berdasarkan laporan resmi yang ada, sedikitnya dua belas orang tewas. Di antara mereka, ada yang merupakan anggota pasukan keamanan Iran. Angka itu mungkin saja belum final, tapi sudah cukup menggambarkan betapa tegangnya situasi.
Ini adalah gelombang protes paling signifikan sejak rentetan aksi besar 2022-2023 silam yang dipicu tragedi Mahsa Amini. Perempuan muda itu meninggal di tahanan polisi karena dituding melanggar aturan berjilbab. Kini, meski pemicunya berbeda, yaitu masalah ekonomi yang akut, tensi politiknya terasa sama panasnya. Dan dunia, sekali lagi, menatap ke arah Iran.
Artikel Terkait
Wali Kota Antusias, Jadwalkan Siswa Belajar di Tabung Harmoni Hijau Polda Riau
Indonesia Soroti Ketegangan di Yaman Selatan, Dukung Inisiatif Saudi
Wagub Babel Hellyana Ditahan Bareskrim Terkait Dugaan Ijazah Palsu
Gamis Rompi Lepas Laris Manis, Tanah Abang Sudah Ramai Jelang Lebaran