Menggali Psikologi Siswa: Mampukah Kurikulum Kita Lebih Manusiawi?

- Selasa, 06 Januari 2026 | 01:06 WIB
Menggali Psikologi Siswa: Mampukah Kurikulum Kita Lebih Manusiawi?

Mungkinkah Kurikulum Kita Dibangun dari Psikologi Siswa?

Pendidikan, pada hakikatnya, bukan cuma urusan materi yang diajarkan. Yang tak kalah penting adalah cara menyampaikannya, dan terutama, siapa yang menerimanya. Di lapangan, seringkali kurikulum kita terasa kaku terlalu fokus mengejar angka dan pencapaian akademis semata. Padahal, di balik seragam sekolah, ada individu dengan dunia psikologis yang unik. Lalu, bisakah kita merancang kurikulum yang benar-benar utuh, dengan landasan prinsip psikologi pendidikan?

Psikologi pendidikan sendiri sebenarnya mengupas tuntas bagaimana proses belajar terjadi. Ia menyelami perkembangan otak, dorongan motivasi, gejolak emosi, dan segala karakteristik khas siswa saat menyerap ilmu. Setiap anak itu unik. Gaya belajarnya berbeda, ritme pemahamannya beragam, dan latar belakang psikologisnya membentuk cara mereka melihat pelajaran. Kurikulum idealnya harus bisa menampung keragaman ini, bukan memaksa semuanya seragam.

Ambil contoh teori Jean Piaget. Ia menegaskan bahwa anak belajar melalui tahapan perkembangan kognitif yang jelas. Sementara itu, Lev Vygotsky justru menekankan peran krusial interaksi sosial dan bantuan dari orang yang lebih mampu.

Namun begitu, realitanya tidak semudah itu. Kurikulum konvensional kerap terjebak dalam keseragaman. Penilaiannya pun nyaris hanya berpatokan pada nilai akhir ujian, mengabaikan proses panjang yang dilalui siswa. Akibatnya? Siswa yang gaya belajarnya tidak cocok dengan sistem, bisa merasa terpinggirkan. Stres dan hilangnya motivasi adalah dampak yang sering kita dengar.

Dari kacamata psikologi, tekanan akademik yang berlebihan jelas mengancam kesehatan mental. Kecemasan, rasa tidak percaya diri, dan beban stres menjadi tamu tak diundang dalam sistem yang abai terhadap aspek psikologis.


Halaman:

Komentar