Operasi militer Amerika Serikat di Caracas berakhir dengan kejutan yang mengguncang dunia: Presiden Venezuela Nicolas Maduro berhasil ditangkap. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (3/1) dini hari, diawali oleh serangan mendadak pasukan AS. Tak lama setelahnya, Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, langsung dibawa keluar dari Venezuela.
Menurut sejumlah saksi, penangkapan ini seolah menjadi klimaks dari tekanan berbulan-bulan pemerintahan Donald Trump terhadap Caracas. Washington sendiri kerap menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah. Namun begitu, langkah drastis AS ini langsung menuai kecaman dari berbagai penjuru.
Kemarahan Sekutu Lama: Rusia dan China
Lalu, bagaimana reaksi sekutu utama Maduro? Rusia dan China, yang selama bertahun-tahun memberi dukungan politik, finansial, bahkan militer kepada pemerintahan sosialis Venezuela, langsung bersuara keras. Dukungan erat ini sendiri warisan dari era Hugo Chávez, mentor Maduro.
Melalui kantor berita TASS, Rusia tak ragu mengecam. Mereka menyebut tindakan AS sebagai agresi bersenjata yang tak bisa dibenarkan.
Moscow mendesak Washington untuk mencegah eskalasi dan memilih jalur dialog. Mereka bahkan mengaku siap jadi pendukung proses itu.
Di sisi lain, China juga tak kalah vokal. Lewat pernyataan yang dilansir CNN, pemerintah Beijing menyerukan pembebasan segera Maduro dan istrinya.
Beijing mendesak AS menghentikan segala upaya menggulingkan rezim dan menyelesaikan masalah lewat negosiasi. Pesannya jelas: kembali ke meja perundingan.
Artikel Terkait
Densus 88 Ungkap Jebakan True Crime Online yang Jerat 70 Anak di Indonesia
Prabowo Tantang Keraguan: Swasembada Pangan Bukan Mimpi, Tapi Kenyataan Tiap Tahun
KPK Ungkap Progres Penyidikan Kasus Kuota Haji Tambahan
Dari Lahan Polda Riau, Lahir Tabung Harmoni Hijau untuk Ketahanan Pangan dan Lingkungan