Nah, reaksi Korea Utara ini sebenarnya punya konteks sejarah yang panjang. Selama puluhan tahun, Pyongyang selalu membela program senjata nuklir dan rudalnya sebagai tameng. Tujuannya jelas: mencegah upaya perubahan rezim yang mereka yakini akan didalangi Washington.
Di sisi lain, dukungan mereka kepada rezim sosialis Maduro di Caracas juga sudah bukan rahasia. Kini, melihat sekutu mereka digulingkan dengan cara seperti itu, amarah mereka meluap.
Pyongyang dengan lantang menyebut aksi AS sebagai pelanggaran sembrono terhadap Piagam PBB dan hukum internasional. Prinsip-prinsip dasar seperti penghormatan kedaulatan, non-intervensi, dan integritas teritorial yang seharusnya dijunjung tinggi dianggap diinjak-injak oleh Washington.
"Suara protes dan kecaman yang semestinya terhadap pelanggaran kedaulatan negara lain yang telah menjadi kebiasaan AS,"
begitu kira-kira kesimpulan pedas dari pernyataan mereka. Intinya, bagi Korut, ini adalah pola lama AS yang kembali terulang.
Artikel Terkait
Mengurai Jawasentris: Zonasi AHWA untuk NU yang Lebih Indonesia
Venezuela Angkat Bicara: Kami Takkan Tunduk pada Tekanan AS
Darurat Sampah Tangsel Berlanjut, Status Diperpanjang Hingga Pertengahan Januari
Ammar Zoni Menangis Saat Akui Keterlibatan dalam Jaringan Narkoba Rutan Salemba