Operasi Rahasia AS: Dua Jam yang Mengguncang Caracas dan Menangkap Maduro

- Minggu, 04 Januari 2026 | 14:00 WIB
Operasi Rahasia AS: Dua Jam yang Mengguncang Caracas dan Menangkap Maduro

Video-video dari warga pun langsung membanjiri media sosial. Satu rekaman menunjukkan konvoi helikopter terbang rendah, sementara asap mengepul dari lokasi ledakan.

"Kami terbangun sekitar pukul 01:55 karena deru ledakan dan dengung pesawat," kata Daniela, seorang saksi mata. "Semuanya gelap gulita, hanya diterangi kilatan-ledakan di dekatnya. Para tetangga saling kirim pesan di grup obrolan, semua bingung dan ketakutan."

Analisis terhadap sejumlah video mengonfirmasi setidaknya lima lokasi sasaran. Termasuk Pangkalan Udara La Carlota dan Pelabuhan La Guaira jalur utama Caracas ke Laut Karibia.

Serangan AS difokuskan pada sistem pertahanan udara dan fasilitas militer lainnya. Trump juga menyebut AS mematikan aliran listrik di Caracas sebelum misi dimulai. "Lampu-lampu di Caracas sebagian besar padam karena keahlian tertentu yang kami miliki," katanya singkat. "Gelap dan mematikan."

'Mereka Tahu Kami Akan Datang'

Sementara serangan udara berkecamuk, pasukan darat AS mulai memasuki kota. Sumber kepada mitra BBC, CBS, menyebut pasukan itu melibatkan anggota Delta Force, unit khusus paling elite. Mereka membawa senjata berat dan pemotong logam untuk membongkar pintu baja rumah aman Maduro.

Pasukan tiba di lokasi Maduro tak lama setelah serangan dimulai, sekitar pukul 02:01. Trump menggambarkan tempat itu sebagai benteng militer yang kokoh di jantung kota. "Mereka sudah siap menunggu kami. Mereka tahu kami akan datang," ujarnya.

Salah satu helikopter AS dikabarkan terkena tembakan, tapi masih bisa terbang. "Pasukan penangkapan masuk ke kompleks dan bergerak dengan cepat, presisi, dan disiplin," kata Jenderal Caine.

"Mereka menerobos tempat-tempat yang sebenarnya tidak bisa diterobos," tambah Trump. "Pintu baja yang dipasang khusus untuk tujuan itu."

Operasi yang juga menangkap istri Maduro, Cilia Flores, ini berlangsung singkat. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rubio mulai memberi tahu anggota kongres sebuah langkah yang kemudian memicu kemarahan.

"Biarkan saya jelaskan: Nicolas Maduro adalah diktator yang tidak sah. Tapi, melancarkan aksi militer tanpa persetujuan Kongres dan tanpa rencana yang kredibel adalah tindakan ceroboh," protes Chuck Schumer, pemimpin Demokrat di Senat.

Rubio membela keputusan itu. Memberi pemberitahuan lebih awal bisa membahayakan misi. "Kongres cenderung bocor," sela Trump. "Ini tidak akan baik."

Di dalam kediaman Maduro, saat pasukan AS membanjiri area, Trump mengatakan sang presiden berusaha lari ke ruang aman. "Dia berusaha mencapai tempat aman, yang sebenarnya tidak aman, karena kami akan menghancurkan pintunya dalam waktu sekitar 47 detik," katanya.

"Dia sampai ke pintu. Dia tidak bisa menutupnya. Diserbu begitu cepat."

Saat ditanya apakah AS bisa membunuh Maduro jika dia melawan, Trump menjawab singkat. "Itu bisa terjadi." Di pihak AS, beberapa orang terluka, tapi tidak ada yang tewas. Otoritas Venezuela belum mengonfirmasi korban di sisi mereka.

Pada pukul 04:20 waktu setempat, helikopter meninggalkan Venezuela. Maduro dan istrinya ada di dalamnya, menjadi tahanan Departemen Kehakiman AS dalam perjalanan ke New York untuk menghadapi tuntutan pidana.

Kira-kira satu jam kemudian, Trump mengumumkan penangkapan itu kepada dunia. "Maduro dan istrinya akan segera menghadapi kekuatan penuh keadilan Amerika," serunya.

PBB Prihatin

PBB bereaksi. Juru bicara Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menyatakan "sangat prihatin" dengan operasi militer AS itu, yang dinilainya memiliki "implikasi mengkhawatirkan" bagi kawasan.

"Terlepas dari situasi di Venezuela, perkembangan ini merupakan preseden yang berbahaya," bunyi pernyataan itu. Guterres menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, seraya menyerukan dialog inklusif di Venezuela.

Kolombia, dengan dukungan Rusia dan China, telah meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB membahas situasi ini.

Tambahan reportase dari Cristobal Vasquez


Halaman:

Komentar