Dunia saat ini tampaknya sibuk dengan perang di Ukraina, kekerasan di Gaza, dan ketegangan antara AS dengan Tiongkok. Tapi ada satu bencana yang nyaris tak terdengar, meski skalanya sangat mengerikan: konflik di Sudan. Sejak April tahun lalu, negara itu terbelah oleh pertempuran brutal antara dua kekuatan yang dulu bersekutu Tentara Sudan (SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Mereka kini saling menghantam, dan rakyat biasa yang paling menderita.
Akibatnya bukan cuma kekacauan politik. Yang terjadi adalah kehancuran total. Jutaan orang terpaksa mengungsi, kelaparan merajalela, rumah sakit hancur, anak-anak tak bisa sekolah, dan perempuan menghadapi kekerasan seksual yang dipakai sebagai senjata perang. Sungguh ironis, ini krisis kemanusiaan terbesar di planet saat ini, tapi perhatian dunia terhadapnya sangatlah kecil. Seolah-olah tragedi ini berlangsung dalam keheningan.
Banyak pengamat melihat situasi ini sebagai cermin dari apa yang mereka sebut New World Disorder tata dunia baru yang kacau. Tulisan ini akan membahasnya lebih jauh.
Pengungsian Tanpa Akhir
Angkanya sulit dibayangkan. Menurut data PBB, lebih dari 12 juta orang telah terusir dari rumah mereka. Mereka mengungsi di dalam negeri atau kabur ke negara tetangga seperti Chad, Mesir, Sudan Selatan, dan Ethiopia. Dalam tempo yang sama, krisis pengungsian Sudan bahkan melampaui Suriah dan Ukraina.
Mayoritas pengungsi adalah perempuan dan anak-anak. Mereka bukan cuma kehilangan atap di atas kepala, tapi juga jaring pengaman sosial, sekolah, dan layanan kesehatan paling dasar.
Yang bikin mirip, banyak dari mereka ini bukan pertama kalinya mengungsi. Di Darfur, misalnya, kekerasan massal sudah terjadi sejak dua dekade lalu dan kini kembali membara. Bagi sebagian warga Sudan, hidup mereka adalah siklus pengungsian yang berulang kali kedua, bahkan ketiga. Pengungsian bukan lagi keadaan darurat, melainkan kondisi permanen yang dialami satu generasi.
Kelaparan yang Sengaja Diciptakan
Lebih dari 21 juta orang hampir separuh populasi Sudan mengalami kerawanan pangan akut. Ratusan ribu lainnya berada di ambang kelaparan parah, kategori tertinggi dalam skala global.
Tapi ini bukan salah alam. Kelaparan ini adalah produk langsung dari perang. Lahan pertanian ditinggalkan atau dihancurkan. Jalur pasokan makanan diputus oleh pertempuran dan blokade. Bantuan kemanusiaan pun dihalangi, bahkan dijarah, oleh kelompok bersenjata.
Di beberapa daerah seperti Darfur dan Kordofan, kelaparan dipakai sebagai alat kekuasaan. Dengan mengontrol akses pangan, pihak bersenjata bisa menaklukkan warga sipil tanpa tembakan. Seorang pejabat Program Pangan Dunia (WFP) dengan tegas menyebutnya engineered starvation kelaparan yang direkayasa.
Anak-anaklah yang paling menderita. UNICEF melaporkan lonjakan tajam kasus malnutrisi akut berat. Di kamp-kamp pengungsian, satu generasi tumbuh dengan tubuh lemah dan masa depan yang suram.
Rumah Sakit yang Jadi Sasaran
Dalam perang, rumah sakit seharusnya jadi zona aman. Di Sudan, justru sebaliknya. Ratusan fasilitas kesehatan diserang, dijarah, atau diduduki pasukan bersenjata. Akibatnya, sistem kesehatan negara itu lumpuh total.
Data WHO menunjukkan lebih dari 70% fasilitas kesehatan di zona konflik tidak berfungsi. Operasi darurat tak bisa dilakukan, persalinan tak tertangani, penyakit kronis dibiarkan, sementara wabah seperti kolera dan malaria menyebar tak terkendali.
Tenaga medis juga jadi sasaran. Banyak dokter dan perawat terpaksa kabur, diculik, atau dibunuh. Ribuan kematian sebenarnya bisa dicegah andai layanan kesehatan masih jalan.
Runtuhnya sistem kesehatan ini bakal meninggalkan luka yang dalam. Bahkan jika perang berhenti besok, dampaknya akan membebani Sudan selama puluhan tahun ke depan.
Kekerasan Seksual dan Trauma yang Tak Terobati
Salah satu sisi paling kelam dari konflik ini adalah kekerasan seksual yang sistematis. Laporan Amnesty International dan Human Rights Watch mendokumentasikan pola pemerkosaan massal dan perbudakan seksual, terutama oleh RSF dan milisi sekutunya.
Kekerasan ini bukan insiden acak. Ini adalah taktik perang untuk meneror, menghancurkan komunitas, dan memaksa orang mengungsi.
Banyak korban perempuan dan anak perempuan tak punya akses ke layanan medis atau dukungan psikologis. Mereka menghadapi stigma sosial, bahkan kehamilan pasca-perkosaan. Dalam hukum internasional, praktik ini jelas merupakan kejahatan perang. Tapi bagi korban, label hukum itu tak serta-merta membawa keadilan. Yang mereka rasakan adalah trauma seumur hidup, tanpa perlindungan.
Masa Depan yang Dicuri dari Anak-anak
Perang selalu mencuri masa kecil. Di Sudan, jutaan anak kehilangan sekolah karena gedungnya ditutup, hancur, atau dialihfungsikan jadi barak pengungsian. Buku-buku lenyap, guru-guru mengungsi.
UNESCO dan UNICEF memperkirakan 17 hingga 19 juta anak terdampak. Tanpa pendidikan, mereka jadi rentan direkrut paksa oleh kelompok bersenjata, dieksploitasi sebagai pekerja anak, atau mengalami kekerasan fisik dan seksual.
Dari kacamata pembangunan manusia, ini adalah bencana lintas generasi. Negara tanpa pendidikan adalah negara tanpa masa depan.
Respon Dunia: Lelah, atau Pura-pura Tidak Tahu?
Lalu, mengapa krisis sebesar ini nyaris tak disorot? Jawabannya mungkin sederhana: dunia sedang mengalami kelelahan moral. Konflik terlalu banyak, perhatian terpecah, dan kepentingan geopolitik sering kali mengalahkan nurani kemanusiaan.
Dewan Keamanan PBB berulang kali gagal bertindak tegas karena veto dan tarik-ulur kepentingan. Pendanaan bantuan anjlok karena donor merasa lelah. Media global pun lebih fokus pada perang lain yang dianggap lebih "strategis".
Padahal, kebutuhan bantuan untuk Sudan diperkirakan mencapai lebih dari 4 miliar dolar AS per tahun. Dana yang terkumpul? Hanya sebagian kecil. Kesenjangan inilah bukti nyata dari New World Disorder itu dunia yang semakin tak mampu melindungi mereka yang paling rentan.
Mengapa Kita Perlu Peduli?
Krisis di Sudan bukanlah tragedi yang jauh dan asing. Ini adalah cermin dari dunia yang kita bangun bersama sebuah dunia di mana penderitaan massal bisa terjadi tanpa konsekuensi politik yang berarti.
Menyadarinya adalah langkah pertama. Menyuarakannya adalah langkah kedua. Menuntut akuntabilitas dan memperkuat solidaritas adalah langkah berikutnya.
Jika dunia terus berpaling, Sudan akan menjadi catatan kelam bahwa jutaan nyawa bisa hilang dalam sunyi. Dan itu, pada akhirnya, mengancam kemanusiaan kita semua. Sebab, krisis Sudan bukan cuma tentang Sudan. Ini tentang siapa kita sebagai komunitas global.
Artikel Terkait
BATC 2026: Indonesia Hadapi Jepang di Semifinal Putra dan Korea di Putri
Wali Kota Makassar Studi Kelola Stadion ke JIS, Proyek Stadion Untia Masuk Tahap Lelang
Bunga Bangkai Raksasa Mekar Sempurna di Kebun Raya Bogor Setelah 12 Tahun
Keluarga Korban Tolak Damai, Tuntut Keadilan untuk Kucing yang Ditendang hingga Tewas di Blora