Bibir Kali Angke Ambles, Pemkot Pasang Bronjong Darurat

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 23:55 WIB
Bibir Kali Angke Ambles, Pemkot Pasang Bronjong Darurat

Hujan deras yang mengguyur Jakarta Barat pada Jumat malam lalu ternyata membawa dampak serius. Sekitar pukul tujuh lebih, tanah di Jalan H Jafar, Kembangan Selatan, tiba-tiba bergerak. Longsoran itu menganga tepat di depan rumah warga, mengikis bibir Kali Angke yang ada di belakangnya.

Untungnya, tak ada korban jiwa atau luka dalam peristiwa itu. "Nihil korban jiwa," tegas Kapusdatin BPBD Jakarta, Mohamad Yohan, saat dikonfirmasi di Jakarta malam itu. Menurut Yohan, penyebabnya jelas: erosi tanah di aliran Angke Hulu yang tergerus oleh hujan.

Merespons kejadian ini, Pemkot Jakarta Barat langsung bergerak. Mereka memilih bronjong, struktur penahan dari kawat berisi batu, sebagai solusi sementara. Tujuannya sederhana tapi krusial: mencegah erosi lebih parah dan longsor susulan yang bisa lebih berbahaya.

"Kami tangani sementara dengan bronjongan," ujar Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah.

Ia menjelaskan, langkah ini diambil untuk mengamankan area seluas kira-kira 20 hingga 30 meter persegi yang terdampak.

Pengerjaannya tak main-main. Purwanti Suryandari, Kepala Sudin SDA setempat, mengerahkan sekitar 50 petugas dari SDA dan PPSU Kecamatan Kembangan untuk membangun struktur tersebut. "Bronjongan kuat dan fleksibel menahan pergeseran tanah," katanya meyakinkan. Memang, metode ini dikenal efektif untuk menstabilkan tanah di tepian sungai.

Di sisi lain, upaya pengamanan juga dilakukan di lapangan. Camat Kembangan, Joko Suparno, menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan BPBD DKI untuk memasang garis pembatas. Garis itu memisahkan zona longsor dari rumah penduduk.

"Kami juga mengimbau warga, melalui RT dan RW, untuk tidak melintasi area yang rawan itu," tambah Joko.

Langkah antisipasi ke depan pun sudah dipikirkan. Mereka akan berkoordinasi lebih intens dengan BPBD untuk memantau ketinggian air Kali Angke dan curah hujan. Ini semacam sistem peringatan dini, agar jika ancaman serupa datang, responnya bisa lebih cepat.

Jadi, meski tanah sudah bergerak, upaya penanganan dan pencegahan berjalan beriringan. Warga setempat tentu berharap bronjong itu cukup kuat menahan laju alam, sambil menunggu solusi yang lebih permanen.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar