Di antara kabut tipis Bandara Soekarno-Hatta Sabtu lalu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyoroti satu nama: Aceh Tamiang. Daerah itu, dalam penilaiannya, menanggung beban terberat pasca bencana yang melanda Sumatera. "Dari semua daerah terdampak, yang paling berat betul adalah Aceh Tamiang," tegas Tito.
Pernyataannya itu bukan tanpa alasan. Dari 52 kabupaten dan kota yang terdampak di tiga provinsi, memang banyak yang sudah menunjukkan kemajuan pesat. Tapi di Aceh, ceritanya agak berbeda. Sebelas dari delapan belas kabupaten di sana kondisinya sudah jauh membaik. Masalahnya, tujuh wilayah lainnya masih terpuruk.
"Tujuh daerah di Aceh ini perlu atensi spesifik," ujarnya, menyebutkan Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah, dan Pidie Jaya. Dari daftar itu, Aceh Tamiang jadi prioritas utama.
Kenapa bisa begitu? Tito lalu menggambarkan karakteristik geografis wilayah itu. Bayangkan sebuah mangkuk. Itulah kira-kira bentuk Aceh Tamiang. Daerahnya cekung, dikelilingi kawasan dataran tinggi. Akibatnya, air dari mana-mana mengalir dan akhirnya menggenang di sana. Banjirnya jadi lebih parah dan lebih lama.
Artikel Terkait
Trump Klaim Saksikan Langsung Penangkapan Maduro dari Ruangannya di Mar-a-Lago
Tragedi di Tanjung Priok: Satu Kelarga Tewas, Hanya Seorang Anak Bertahan
Venezela Tuding AS Serang Permukiman Sipil, Ancang Balas Dendam
Kembang Api di Botol Sampanye Diduga Picu Kebakaran Maut di Bar Swiss