Kondisi ekonominya memang suram. Nilai tukar Rial Iran anjlok terhadap dolar AS. Imbasnya, harga barang-barang impor melambung tinggi dan memukul para pedagang ritel. Inilah pemicu utama kemarahan warga. Kini, aksi tak hanya diikuti pemilik toko. Para mahasiswa pun mulai bergabung, memberi warna baru pada gelombang protes.
Di sisi lain, seruan Mossad ini muncul di saat yang sensitif. Baru saja pekan ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu melakukan pembicaraan. Usai pertemuan itu, Trump tidak main-main. Dia memperingatkan Iran akan menghadapi serangan baru jika negeri itu terus mengembangkan program nuklir atau rudal balistiknya.
Jadi, situasinya jadi makin rumit. Ada gejolak dalam negeri yang memanas, dan di saat yang sama, tekanan dari luar justru mengipasi bara itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Semua mata tertuju ke Iran.
Artikel Terkait
Tiga Orang Luka-Luka dalam Kecelakaan Truk Kontainer di Turunan Silayur Semarang
Ketua Parlemen Iran: Waktu AS dan Israel Patuhi Gencatan Senjata di Lebanon Hampir Habis
Polisi Tangkap Pelaku Penculikan dan Penyekapan Anak 10 Tahun di Cirebon
Geopolitik Panas Ganggu Pasokan Minyak, Aktivis Dorong Percepatan Pengurangan Plastik Sekali Pakai