“Terutama dalam hal monitoring penggunaan dana desa secara akuntabel,” lanjutnya.
Nyatanya, upaya digitalisasi ini bukan satu-satunya program. Bank Jateng sudah lebih dulu menggerakkan ekonomi perdesaan lewat Samsat Budiman yang melibatkan ratusan BUMDes. Ada juga penguatan koperasi desa via QRIS, plus pendampingan literasi keuangan oleh agen-agen dutanya.
Di sisi lain, sinergi ini mendapat sambutan hangat dari daerah. Boyolali terpilih sebagai pusat kolaborasi, sekaligus persiapan menuju Hari Desa Nasional 2026 mendatang.
Bupati Boyolali, Agus Irawan, tak menyembunyikan apresiasinya.
“Ini adalah langkah konkret untuk memastikan kemudahan kedepannya,” ungkap Agus.
“Kerja sama ini sangat strategis karena menyentuh aspek akselerasi ekonomi agar BUMDes kita mampu berdaya saing secara profesional, serta mendorong tata kelola keuangan desa yang lebih akuntabel,” jelasnya.
Perjanjian Kerja Sama (PKS) tersebut akhirnya ditandatangani di Kantor Bupati Boyolali, tepat pada hari Senin (29/12). Semua pihak berharap momen ini menjadi tonggak baru. Harapannya, ekonomi desa bangkit lebih tangguh dan berkelanjutan sesuai visi yang digaungkan: 'Maju Desanya, Sejahtera Rakyatnya, Kuat Negaranya'.
Artikel Terkait
Atap PAUD Ambruk di Pandeglang, Laporan Revitalisasi Sebelumnya Tak Digubris
Kebakaran Diduga Korsleting Hanguskan Ruang Guru SD di Bogor, Ujian Ditunda
BMKG Catat 422 Gempa Susulan Usai Gempa M 7,6 di Bitung
Gempa M 5,2 Guncang Maluku Utara, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami