Cinta Ditolak, Pria di Depok Tebar Ancaman Bom ke 10 Sekolah

- Sabtu, 27 Desember 2025 | 08:15 WIB
Cinta Ditolak, Pria di Depok Tebar Ancaman Bom ke 10 Sekolah

Seorang pria berusia 23 tahun, berinisial HRR, akhirnya diamankan polisi. Dialah otak di balik ancaman bom yang sempat membuat sejumlah warga Depok, Jawa Barat, was-was. Targetnya tak tanggung-tanggung: sepuluh sekolah. Tapi siapa sangka, dalang teror ini ternyata digerakkan oleh kisah cinta yang berakhir pahit.

Motifnya sederhana, namun eksekusinya nekat. Rupanya, hati HRR hancur setelah lamarannya ditolak mantan kekasih, seorang perempuan berinisial K. Kekecewaan itulah yang kemudian berubah jadi ancaman untuk banyak orang.

Kasat Reskrim Polres Metro Depok, Kompol Made Gede Oka Utama, membeberkan kronologinya. Menurutnya, hubungan asmara antara HRR dan K pernah terjalin di tahun 2022. Bahkan, keluarga besar pelaku sempat melamar, tapi tak diterima.

"Dapat kami jelaskan juga motif dari tersangka untuk melakukan penteroran ataupun tindak pidana ini adalah tersangka merasa kecewa. Karena memang yang bersangkutan sempat berpacaran, yaitu Saudara H dan Saudari K, ini sempat berpacaran di tahun 2022. Kemudian sempat juga keluarga besar dari Saudara H melamar tapi ditolak,"

Jelas Made, pada Jumat (26/12/2025) lalu.

Penolakan itu rupanya tak bisa diterima HRR. Kekecewaannya berubah jadi teror yang sistematis. Dia tak hanya mengancam K secara langsung, tapi juga nekat membawa ancamannya hingga ke kampus tempat mantan kekasihnya itu menuntut ilmu.

"Karena memang Saudara H sudah sering melakukan teror kepada ataupun pengancaman bukan hanya ke yang bersangkutan (Saudari K). Tapi sampai juga kita mendapatkan bukti bahwa menteror ke kampus tempat Saudari K berkuliah,"

tambah Made.

Itu belum semuanya. Tindakan HRR semakin menjadi. Keluarga K pun dibuat resah dengan kedatangan order-order fiktif. Makanan yang tak pernah dipesan tiba-tiba saja datang ke rumah mereka.

"Kemudian banyak juga order fiktif ataupun makanan fiktif yang dikirimkan ke rumahnya, padahal yang bersangkutan ataupun keluarganya tidak ada memesan,"

papar Made melengkapi penjelasannya.

Dari ancaman personal, akhirnya meluas jadi teror yang menyasar institusi pendidikan. Sebuah aksi yang, meski berawal dari urusan hati, jelas tak bisa dimaafkan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar