Bagi banyak keluarga yang sedang berjuang menghadapi musibah, perayaan Natal kali ini diharapkan bisa menjadi simbol harapan. Itulah pesan yang disampaikan Kementerian Agama. Tema Natal Nasional 2025, 'Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga', dipilih untuk menegaskan bahwa kehadiran Tuhan tetap nyata di tengah segala persoalan yang menerpa.
Menurut Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kemenag, Suparman, alasan pemilihan tema itu cukup jelas. Keluarga, dalam pandangannya, adalah fondasi utama. Ia menyebut keluarga sebagai tulang punggung, baik bagi masyarakat maupun negara itu sendiri.
"Sebagaimana kita ketahui sahabat religi, keluarga itu adalah tulang punggung dari masyarakat. Adalah juga tulang punggung dari negara. Jadi tema ini diambil karena keluarga itu adalah tulang punggung,"
ujarnya dalam sebuah keterangan tertulis, Jumat lalu.
Pesan ini, lanjut Suparman, terasa sangat relevan dengan kondisi aktual. Bayangkan saja, berbagai wilayah dilanda bencana, belum lagi konflik dan peperangan di tempat lain. Natal, dalam situasi seperti ini, hadir membawa secercah harapan.
"Jadi makna Natal itu adalah harapan bagi semua keluarga-keluarga kudus atau keluarga-keluarga Samawa yang sedang dilanda kesedihan, penderitaan. Bahwa ada harapan bahwa Tuhan itu bersama-sama dengan keluarga untuk melalui semua persoalan-persoalan yang sekarang ini terjadi,"
sambungnya.
Harapan itu, tegasnya, berlaku universal. Untuk keluarga di mana pun mereka berada, dalam kondisi apa pun. Ia lantas menyebut beberapa daerah seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, juga negara-negara lain yang mengalami hal serupa bencana alam. Di saat-saat sulit itulah, ikatan keluarga justru seringkali menguat lewat doa dan ibadah bersama. Rumah-rumah ibadah ramai dikunjungi keluarga yang mencari ketenangan.
"Kalau kita perhatikan para pemirsa sahabat religi, itu yang namanya masjid, yang namanya gereja, itu penuh dengan keluarga-keluarga pada saat kejadian bencana,"
imbuhnya.
Pendapat senada datang dari Jeane Marie Tulung, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kemenag. Ia menjelaskan bahwa tema ini berangkat dari pemahaman sederhana: keluarga adalah komunitas terkecil yang tak pernah luput dari masalah.
"Kenapa? Karena kita melihat bahwa komunitas terkecil adalah keluarga,"
katanya.
Memang, persoalan dalam rumah tangga itu banyak ragamnya. Tapi, kehadiran Tuhan diyakini tetap menyertai, bahkan dalam keluarga yang paling sederhana sekalipun. Jeane mengajak kita untuk melihat realitas keluarga masa kini yang dihantam beragam problem sosial. Meski begitu, ia optimis.
"Meskipun dalam kondisi seperti itu, tetapi ada harapan, masih ada cahaya yang bisa muncul dalam persoalan keluarga atau dalam kegelapan, dalam kegelapan yang dihadapi oleh keluarga. Nah, harapan itu muncul ketika kita, ketika keluarga membuka hati, membuka hati untuk menerima kehadiran Allah dalam hidup keluarga itu,"
pungkasnya.
Pada akhirnya, Kemenag berharap perayaan Natal tahun ini bisa jadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai luhur. Kasih sayang, kepedulian, dan kebersamaan terutama bagi mereka yang tengah berjuang menghadapi masa-masa sulit menjadi inti harapan yang ingin disebarkan.
Artikel Terkait
Xpeng Soroti Dominasi AI di IIMS 2026, Geser Fokus dari Tenaga ke Komputasi
Mensesneg Serukan Peran Pers Sebagai Pilar Kemajuan Bangsa di HPN 2026
Kemendagri Tegaskan Pentingnya Sinkronisasi RTRW Daerah dengan Kebijakan Nasional
Bareskrim Usut Kasus Investasi DSI, Tiga Petinggi Perusahaan Jadi Tersangka