Doa Lintas Agama di Bekasi untuk Korban Bencana Sumatera

- Rabu, 24 Desember 2025 | 20:05 WIB
Doa Lintas Agama di Bekasi untuk Korban Bencana Sumatera

Di tengah terik matahari Bekasi, Lapangan Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) pagi ini tampak berbeda. Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalir khidmat, dibawakan oleh ratusan siswa Sekolah Rakyat. Mereka berkumpul bukan untuk perlombaan atau perayaan biasa, melainkan untuk satu tujuan: memanjatkan doa bagi saudara-saudara mereka di Sumatera yang sedang berduka akibat bencana.

Ratusan siswa itu datang bersama orang tua dan wali mereka. Total, ada 572 anak dan 526 orang dewasa yang hadir, mewakili berbagai cabang Sekolah Rakyat dari Jakarta Timur, Bogor, hingga Bekasi sendiri. Acara yang penuh empati ini juga dihadiri sejumlah pejabat. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul hadir langsung, didampingi Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Wali Kota Bekasi, serta jajaran Forkopimda setempat.

Setelah khotmil Quran, suasana berganti dengan irama hadroh yang dinamis. Namun, yang cukup menyita perhatian adalah penampilan baris berbaris siswa. Barisan yang rapi dan gerakan kompak itu bukan sekadar pertunjukan. Lebih dari itu, itu adalah cerminan kedisiplinan dan ketangguhan mental yang coba dibangun dalam diri mereka.

Puncak acara benar-benar mengharukan. Di situlah, semangat kebersamaan dalam perbedaan diwujudkan dengan nyata. Perwakilan siswa dari SRMA 13 Bekasi, yang menganut lima agama berbeda Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha bergantian memimpin doa. Suara mereka mungkin masih terdengar稚嫩, tapi niatnya tulus.

“Kami titipkan saudara-saudara kami di Sumatera yang tertimpa bencana. Kami juga mempersembahkan doa bagi masyarakat Sumatera yang tertimpa bencana agar dikuatkan kembali,” ucap salah seorang siswa, dalam sebuah keterangan tertulis, Rabu (23/12/2025).

Nuansa kepedulian global pun tak ketinggalan. Usai doa, tiga siswa maju menyampaikan pidato dalam bahasa asing. Kiendra berbicara dalam Bahasa Inggris, Mico dalam Bahasa Arab, dan Nur Aisyah dalam Bahasa Mandarin. Mereka ingin pesan solidaritas ini terdengar lebih luas.

“To our friends in Sumatra, our prayers are with you. Our empathy is with you. We study today in your name as well,” tutur Kiendra dengan lancar.

Menurut Gus Ipul, acara doa bersama ini sekaligus menjadi refleksi penutup tahun bagi Sekolah Rakyat. Ia mengakui, meski program ini masih berjalan sekitar lima bulan, perkembangannya cukup menggembirakan. Anak-anak dari beragam latar belakang kemampuan tetap bisa dibimbing sesuai minat dan bakat masing-masing.

Ia juga menyentil kondisi sejumlah Sekolah Rakyat di wilayah Sumatera. “Beberapa sempat diliburkan karena dampak bencana, di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh,” jelasnya. Namun begitu, kabar baiknya adalah kerusakan yang terjadi tidak permanen.

“Tidak ada yang rusak permanen, alhamdulillah. Secepat mungkin akan kita pastikan aman agar proses belajar-mengajar bisa dimulai kembali,” tegas Gus Ipul.

Di sisi lain, pemerintah sendiri terus berkoordinasi. Konsolidasi lintas kementerian digalakkan untuk penanganan pascabencana, mulai dari penyediaan hunian sementara hingga paket bantuan ekonomi. Doa dari lapangan di Bekasi ini, diharapkan bisa menjadi penyemangat tambahan. Pengingat bahwa di mana pun mereka berada, seluruh anak bangsa ini tetap satu, saling mendukung dan mendoakan dalam menghadapi cobaan.

Acara kemudian ditutup dengan penampilan paduan suara dan pembacaan puisi oleh 61 siswa perwakilan. Lagu-lagu seperti “Manusia Kuat” dan “Di Bawah Tiang Bendera” kembali mengalun, mengirimkan harapan terakhir agar masyarakat Sumatera segera bangkit dan pulih. Sebuah pagi yang sarat makna, sederhana, namun terasa sangat dalam.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar